Entah apa yang sedang dirasakan aku saat ini. Sampai sampai sebulan lebih mengalami insomnia akut seperti ini. Mungkin, karena tidak ada yang mengucap selamat malam. Atau memang ada suatu benda yang biasanya terasa dekat, dan sekarang seperti begitu jauh dan menjauh.
Tapi terheran heran tanpa henti setiap malam. Aku pun seakan akan terikat seperti kambing arab yang akan disembelih menuju ajal. Aku pun menerima setiap malam, jika harus membiarkan pikirannya berjalan dan menulis beberapa kata yang dirangkainya menjadi frasa, dan kemudian sampai menjadi sebuah paragraf.
Akan tetapi, beberapa jenak, nyamuk kadang kembali mengingatkan si aku bahwa kata saja tidak akan cukup. Kata tidak mampu menghadirkan sesuatu yang telah lama hilang dan yang selalu dikenang.
Aku memang pria humoris yang terlalu kepedean ingin melepas sesuatu yang sangat ia cintai. Tapi sayangnya, aku pun tak pernah bisa berhasil. Padahal secara logika dan akal sehat, aku harusnya bisa pergi dan menghilang. Tapi hari demi hari berlalu, aku tak pernah bisa melupakan sesuatu yang ingin dia tinggalkan. Rasanya masih hangat jok motornya akan kenangan. Rasanya baru kemarin malam baru makan penyetan di jalan pandegiling; ketika sesuatu itu memarahinya lantaran helmnya dibiarkan basah.
Menunggu hujan, mampir di minimarket, sejenak bersenda gurau, semuanya ada didalam kepalanya.
Kini aku pun menyesal bahwa harusnya aku bisa lebih lama hidup dengannya.
"Jika harus hari ini aku berpisah, mengapa tak bertemu sejak SD saja?"
"Kenapa Malam? Kenapa bulan? Kenapa sepi? Kenapa sekurang ini rasanya"
"Jika harus hari ini aku berpisah, mengapa tak bertemu sejak SD saja?"
"Kenapa Malam? Kenapa bulan? Kenapa sepi? Kenapa sekurang ini rasanya"
Gumamnya akhirnya harus berakhir pada belaian sebuah lagu "sementara". Dan juga dukungan kipas angin yang mengajak aku untuk bermain-main dalam mimpi. Apakah mimpinya masih tentang sepi dan kehilangannya?
#bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar