Minggu, 29 April 2018

Pelarianku

Entahlah
Mungkin ini tak semulus yang dibayangkan. Semuanya terjadi begitu saja dan terlewat tanpa pamit sebelumnya. Ini sudah oktober. Puasa telah terlewat hari raya jadi hari sepiku sendiri. Tak bisa dibayangkan solat Idul Fitri sendiri di kampung orang. Dari hari ke hari semuanya begini saja. Tak ada yang istimewa. Tapi alhamdulillah sejak sepi itu menemani aku sehat sehat saja. Tapi tetap saja ada yang kurang. Ini ujian terberat bagiku. Andai aku tak mengambil jalan diam, mungkin aku sudah melampiaskan segala amarah, juga kekesalan ini pada hati perempuan lain. Tapi aku sudah sampai disini. Disini tempatku. Aku tak bisa mengambil keputusan paling emosional kecuali berhenti kerja dan pergi yang jauh. Ini sudah masanya. Sudah waktunya seseorang marah dan tak ingin menemuiku lagi. Aku tak bisa mengendalikan kondisi diluar kuasaku. Karena pada waktu itu juga aku masih menata kesehatan batinku yang makin hari makin tidak karu-karuan. Tapi seperti biasanya aku tidak memunafikkan bahwa kebaikan lain datang dari Tuhan. Walaupun itu tidak datang dari seorang perempuan yang kemarin atau pun perempuan yang baru. Diwaktu akhir akhir berhenti kerja. Semuanya serasa lebih mesra. Bekerja lebih enteng. Karena aku menemukan pelarianku, yaitu sesuatu yang entahlah aku juga tidak tahu. Karena aku sendirian. Aku gotong separuh bajuku. Lalu separuhnya aku tinggal di depan kamar sembari menuliskan bahwa baju yang ku tinggal itu agar disumbangkan ke orang yang membutuhkan. Ini akhir yang berat. Betapa di sepanjang jalan aku merenung sendiri sambil mendengarkan musik dari band indie "Efek Rumah Kaca". Salah satu alasan mengapa aku sering mendengarkan lagu ini. Karena band ini fokus pada kritik kritik sosial dan kritik pada perasaan. Ini cocok sekali. Pelarian yang cukup menenangkan. Jika aku rangkul perenunganku itu mungkin tentang "ternyata aku bukan siapa siapa". Meski aku telah sabar menanam kebaikan tapi ketidakihklasanku jadi masalah bagiku sendiri. Mungkin Tuhan lebih mengerti keruhnya hatiku ketimbang aku yang masih diburu nafsu.

Lima belas hari aku dirumah. Tapi juga tak enak kelihatannya jika aku nganggur terus. Orang yang tidak paham bahwa aku tidak sedang mengalami trauma akan pekerjaan, mungkin mereka akan berpikiran biasa biasa saja. 

Tapi kali ini aku memilih diam dan secepat kilat pergi mencari pelarian yang lainnya. Karena aku butuh ketenangan. Aku butuh pelarian yang lebih bijak dari pada seorang perempuan. Dengan berjalan kaki ke terminal, aku naik saja dengan membawa hape dan dompet. Untuk pakaian, entahlah asal aku tidak telanjang saja itu sudah lumayan. 

Jam setengah tiga  pagi sampai diterminal arjosari dan aku mulai jalan kaki. Sekitar jam tiga perutku sudah bunyi. Alhamdulillah aku sampai pasar belimbing dan mampir untuk beli gorengan dan kopi. Disaat duduk sendiri seperti ini, rasa rasanya air mataku ingin keluar dari kelopak mataku. Tapi aku tetap tenang dan melanjutkan perjalanan. Sempat ingin mencari sesosok teman dijalan. Dan akhirnya aku menemukan kucing kecil. Tapi dia ketakutan melihatku. Tanpa lama lama, aku biarkan saja dari pada harus memaksa. 

Setengah enam aku sudah ada di kampus. Aku perhatikan sandalku sudah tipis dan jempol kakiku kembung berisi air karena kepanasan. Jam tujuh aku dijemput oleh kawan lamaku yang aku anggap sebagai saudaraku sendiri. 

Waktu berjalan saja semuanya dan hidupku? Entahlah aku ikut saja. Aku bantu temanku untuk buka usaha warkop. Aku ajari dia basic latte dan beberapa resep minuman yang jadi favorit ditempat kerjaku. Aku hanya punya itu saja. Untuk uang seribu rupiahpun aku tak pegang waktu itu. Aku sempat pamit ingin berjalan lagi mencari Tuhan, tapi selalu dicegat dan ditawarkan beberapa pekerjaan oleh teman baikku ini. 

Kadang ku di kampus untuk beberapa hari. Yah untuk sekedar rindu bermalam disana. Kebetulan ada diklat teater. Dan alhamdulillah aku mulai tidak kesepian. Karena anak-anak baru kali ini antusias banget sama teater walaupun untuk manajemen waktunya mereka masih kebingungan ngaturnya. Aku bantu kasi solusi sebisanya. Aku bantu jalannya diklatlah. Setidaknya atau paling sedikitnya aku punya sesuatu untuk mereka. Meskipun kadang untuk bahas filsafat dll. 

Setelah lama dikota. Aku diajak bantu bantu bersih bersih rumah di lereng gunung semeru. Karena temanku yang lain, ingin mengadakan pameran. Aku suka banget ngambil pelajaran dari proses anak yang satu ini. Karena dari dulu dia beda dari anak yang lainnya. 
Setelah ditentukan harinya. Kita berangkat ke atas di malam hari. Tapi masih mampir mampir di acara "padang bulan" yang diadakan dituren. Tengah malam aku ikut doa bareng dengan warga sekitar di candi jago. Ini pelarian yang sangat tidak direncanakan. Aku senang waktu itu karena seniman seniman malang ada disitu. Singkat cerita, berkat anak satu ini aku jadi kenal dengan beberapa artis senirupa, pemerhati lingkungan, tourguide dan sutradara film 5 cm. 

Diatas ( lereng gunung), aku mulai bersih bersih rumah tua yang hampir semua komponen rumahnya dari kayu. Asik banget buat design pameran disini. Dibelakang rumah bermacam macam bunga tumbuh subur. Dari mawar, krisan dan banyak lah. Aku gatau namanya. Didepan rumah ada bawang putih, bawang pre dan ladang apel. Tiap pagi kalau lapar aku makan apel. Maklum lah aku ga pegang uang sepeserpun waktu itu. Tapi bukan berarti aku kelaparan. Orang-orang sekitar sangat welcome sama temenku yang satu ini. Karena dedikasinya untuk warga di desa itu cukup banyak. Yang aku ikut aja dan dari yang aku ketahui. Dia pernah bantu bikin spanduk dikelurahan poncokusumo. Pernah juga ngecat alat gamelan juga. Baru disini aku menemukan seniman sejati. Bisa dibilang seperti itu. Karena dia sama sekali ga materialistis. 

Jika malam datang aku sering pakai sarung dan baju tipis diluar rumah tua itu. Aku sering lihat bulan sendirian dan memasrahkan kegilaan ini pada Tuhan. Kira kira kalau dijabarkan dengan kata seperti ini "Ya Allah ya Rohman ya Rohim. Aku sudah tidak punya seseorang yang membuatMu cemburu lagi. Aku sudah sendiri. Dan sangat erat terikat oleh sepiMu ini. Aku pasrahkan mati dan hidupku padaMu. Aku mengerti jodoh tak jauh beda dengan rizki. Aku tak akan meminta lebih. Karena selama ini aku telah membuktikan sendiri. Uang dan selain kamu bukan jaminan sebuah kebahagiaan. Ya Alimu Ya batin. Astagfirullahhaladzim. Astagfirullahaladzim. La halus wa la kuwwata lila billah." Mengucur deras air mataku lagi. Aku malu. Lelaki kok se cengeng ini

Bersambung



Senin, 23 April 2018

Tembang ing ati

Coba datang
Coba kembali 
Kembali lagi
Ku kembalikan bali 

Sejauh riuh
Riuh ruang
Ruang ruang Rumahku
Rumah sukmaku

Angin membawa panas
Meleleh yang melekat 
Hangat matahari 
Memeluk bekuan belum
Beku aku ratri 

Turu ing Awang awang

Senin, 19 Maret 2018

Tabungan tangis

Begitu susahnya melupakan.
Bahkan jika harus dipaksa lupa,
Aku juga, kamu juga
Sama sama berusaha lupa,
Karena sebuah tuntutan peran,
Kebaikan dan kebahagian datang dari sebuah perpisahan.

Yang dari ego itu kita tak pernah menjadi yang paling benar.
Seribu lebih pengalihan dipasang didepan pikiranku.
Tapi pagar itu aku bongkar sendiri.
Dan sesekali aku ingin tengelam dalam lamunan lamunan yang sepertinya kemarin sudah datang.
Oh. Betapa bahagianya ditenggelamkan angan dan hidup sebahagia mati.
Oh. Betapa bahagianya kasihku.
Hidup dan mengakar dipikiran dan disetiap sudut mata melihat.
Tertancap dalam.
Sangat amat dalam.
Aku tak sudi jika ada tabib atau peri yang mengobati.
Ini ujian yang sangat menyebalkan
Sekaligus mendebarkan.
Dan Tuhan hadir dengan KekuasaanNya
Lewat dirinya.

Minggu, 18 Maret 2018

Beranda

Kemarilah sayang
Tampar aku sekali lagi
Dan aku tetap tak akan mengelak

Membungkus kota juga kenangan

Jika saja aku burung
Telah lemah aku terbang tak bertujuan
Tanpa tumpuan 
Bernyayipun tak semerdu waktu itu
Kini datang suatu gelombang dari cakrawala kedalaman jiwaku yang sedikit bercahaya. 
Yang tiba tiba saja menyapu kemahsyuran dan angan angan akan cinta dan hasrat memiliki. 
Kini aku harus pasrah dibawa ketepian
Walau dalam diam, sudah pisah suara hati dengan jagat raya raga serta keinginannya
Gelombang itu datang sangat cepat
Dan begitu cepat
Kini tenggerokanku tercekik
Lidahku tergulung 
Kakiku terantai karang
Aku tak tenggelam
Aku ditepian bersama pasir
Bersama matahari kala siang
Bersama mendung dikala hujan
Bersama bulan dan bintang ketika malam
Pekik dalam hati
Pilu melihat lautan tempatku berenang
Tak kuasa menyaksikan betapa kata percuma didaratan ini
Aku ingin suarakan keinginan 
Tapi pikiranku memenjara dan menamparku sangat keras dan lebih keras dari sebelumnya

"Kau disini saja. Kau rasa rasakan saja bagaimana ramainya kesepian ini. Bagaimana rasanya raga itu mati. Tapi angan dan inginmu tetap berbisik dan menelisik segala lubang yang belum kau tutupi dengan rasa bersyukurmu. Cintamu tak pernah salah. Perbaikilah cara cara nya dan minta maaflah karena telah menyiksa raga dan hatimu terlalu keras" 

Rasa kasih Rasa lirih

Kasih tentang kisah
Laut membawa ombak dan karang
Lalu kita kandas.
Lalu kau jadi aku
Dan aku jadi kau
Malam semakin sunyi
Semakin dingin
Semakin tak jelas kapan berakhirnya
Jika tak datang matahari
Jika tak hinggap embun didedaunan juga dirambutku, maka tak berbedalah waktu.
Juga karena kita tanpa kaca.