Selasa, 02 Agustus 2016

Bismillah

Tidak banyak orang yang pernah melihat mataku basah. Kecuali orang tuaku dan kalian yang pernah aku sayang dan perjuangkan. Hari ini aku masih terjebak pada umur 24 tahun setelah tahun lalu lulus di perguruan tinggi bergelar sarjana. Sarjana sastra. Tapi dengan segala jujur yang bisa aku ungkap. Aku tak pernah suka gelarnya. Tapi sastranya iya.

Sudah sarjanapun, tidak lantas mengubahku menjadi orang pemberani. Dalam hal apapun. Ya! Aku masih penakut. Aku masih berpikir dan mencari kata yang tepat untuk diucapkan kepada lawan bicaraku. Sialnya menjadi seorang pemalu. Tapi tidak juga dari semua yang kau baca tentangku adalah  benar. Karena setiap tulisan mengandung distorsi distorsi yang arti sebenarnya, hanya penulisnya yang tau. Dan kamu yang sedang baca ini, mungkin tidak paham. Itu sih kata dosenku yang pernah ke Praha.

Kamu masih mau membaca? Syukurlah. Maka akan kutulis untukmu pembaca setiaku.
Aku lelaki biasa yang kebetulan ketelingsut dibalik appron starbucks. Aku lelaki yang hampir gak punya ambisi. Tapi sebenarnya aku sedang berusaha serius untuk menegakkan setia. Aku tak pernah berhitung berapa wanita yang aku taklukkan. Hanya menjalani kehidupan yang biasa biasa saja. Bekerja, makan, tidur, dan berusaha membahagiakan orang tua dan keluarga besarku.

Aku ga punya banyak kelebihan. Aku juga ga punya banyak keinginan untuk hidupku di masa yang akan datang. Hanya berharap mati setiap hari. Karena aku memang rindu dan ingin tahu Tuhan itu seperti apa. Tapi alhamdulillah sampai sekarang aku masih diberi kepercayaan untuk hidup dan merasakan cinta.

Aku adalah orang yang optimis. Rela berkorban. Bahkan mungkin bisa dikatakan setia. Kekasih terakhir masih hidup dan sehat wal afiat. Walaupun sekarang dia telah berbahagia dengan kekasih dan teman temannya yang lain. Akhir-akhir ini iku sangat overprotektive pada seseorang yang memang sangat aku cintai. Ya itu karena aku masih berharap menikahinya suatu saat. Tapi karena semuanya sudah usai dan dia masih senang berteman dan bermain main, maka lebih baiknya aku lepas.

Demi kebahagiaannya dengan temannya. Maka aku korbankan semuanya sebisaku. Karena aku memulainya denga ikhlas dan juga harus kehilangannya dengan ikhlas juga. Tak perlu mengitung seberapa sabar dan sayang, yang penting aku tetap menjunjung setia. Aku tak mau menduakan dia dan juga selalu memprioritaskan dia.

Sayang sekali aku juga lupa bahwa aku tak memiliki banyak kelebihan seperti dia. Dan kini aku sering berdiam diri. Ketawa sendiri. Tapi ini lebih baik dari memaksa orang lain untuk setia padaku. Karena selingkuh adalah sebuah penghinaan. Apapun alasannya.

#cont

Tidak ada komentar:

Posting Komentar