Selasa, 21 Oktober 2014

jurang dihati

ada jurang kecil diantara besi kuningan peking dan saron.
jurang kecil itu bisa menyebabkan luka pada bunyi yang cukup besar pada telinga pendengar.
itu jika aku berbicara tentang gamelan.

kini tak ada yang selamat dalam perjalanan cintaku denganmu.
padamu aku berserah selalu.
karena kekhawatiranmu, kamu takut aku tinggalkan.
dan berpikir yang tak pernah ada.

kita berada dimana sayang?
apakah yang kau rasakan sama seperti yang kurasakan?
kenapa kamu begitu takut padaku?
setelah beberapa tahun kau bernafas, apa lagi yang kamu takutkan?

kini aku telah lama bunuh diri karena ketakutanmu.
semoga semua yang baik, tetaplah dirimu.
sekarang dan nanti

Jumat, 17 Oktober 2014

corat coret

sayang, kamu tau tidak?
aku rindu banget sama kamu.
rindu yang tak seperti rindunya lelaki lain.
ini karena ketidak hadiranmu disetiap malamku.
tapi sayang

kamu tak perlu khawatir.
ketiadaanmu sudah cukup lama menyembunyikan orang-orang lain.
kesadaranku akan ketiadaanmu telah melahirkan keinginan-keinginan.
yang setiap hari ada.
ada lagi dan lagi.
menggunung dan meluas.

mari sini sayang peluk ketiadaanku.
cium anganku.
sebelum ini benar-benar terjadi.
aku tak akan menunggu yang ada.
aku akan menantimu yang tak ada.

agar kamu mengerti awal terciptanya dunia ini.
mula-mula manusia itu tak ada.
mereka hanya menganggap itu ada.
dan atas kesombongan mereka, terciptalah dunia.
yang tak sepenuhnya benar bahwa inilah dunia.

aku selalu terpenjara.

dan aku benar- benar ada ketika aku menyambut cintamu.

Kamis, 09 Oktober 2014

How to Touch Your Heart

Aku sama seperti yang lain, 
Orang yang tergila-gila akan kesempurnaan.
Sampai aku memimpikanmu dan berteriak padaku.
Membangunkan dan menyadarkanku.
Bahwa kesempurnaan hanya sebuah kehampaan tanpa orang yang kita sayangi.

Aku mencintaimu sangat sederhana.
Kamu lihat kan gambar diatas?
Ya, aku tak begitu berharap ada kursi disitu.
Kecuali kamu disebelahku.
Membisikkan beberapa suara yang dititipkan Tuhan padamu.

Aku sudah tak mengerti bagaimana cara meng-ada-kan diriku.
Aku sudah bosan dengan dunia ini, jika tak ada senyuman dan tawamu.
Dan jangan tanyakan padaku betapa bersalahnya diriku jika tak mencintaimu.

Aku bisa berbahasa Indonesia, Jawa, Madura, Inggris juga.
Tapi ketika berbicara denganmu,
Tak ada bahasa yang cukup untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan.

Aku gugup.

Aku juga mengerti, aku sudah keluar dari keadaan yang dianggap wajar.
Aku mungkin sudah tidak waras.
Tapi aku menyukai ketidakwarasan ini.

Tersenyum sendiri dalam kesepian.
Menata taman penuh warna warnimu disetiap sisi.
Mengecilkan samudra dan ku tempelkan pada langit-langit. 

Dan kini kau tersenyum padaku. 
Dan berteriak "Boooodoooooooo".

Dan beginilah bahagia.
Jika suatu saat kau disini.
Maafkan aku jika aku menganggapmu Surga.





Selasa, 07 Oktober 2014

EMON

Jadi begini,
Ya begini.
Sesuatu dan segalanya sulit dijelaskan.
Tapi kamu salah satunya yang akan kutulis.
Jadi begini,
Ya kita terpisah dan selalu tak bertemu.
Aku akan menulis untukmu.
Untuk pertama kalinya aku menulis dan aku tak bisa menulis apa yang sedang kurasakan. Semoga mewakili dan semoga kau membacanya.

Jadi, aku telah lama membangun duniaku sendiri.
Dan didalamnya ada kamu.
Yang selalu merasa si Gendut.
Yang beberapa tahun lalu aku temukan kau dengan rasa bahagiamu diberanda facebookku.
Senyumanmu dan keramahanmu, selalu membuka tempat tersendiri dalam duniaku.

Jadi, semua dimulai dari senyumanmu.
Dan berjalan dari kecemburuanku atas keramahanmu pada lelaki yang kamu cintai.
Entah, aku tak tau harus berkata apa.
Memang lelaki penuh dengan kecemburuan.
Ini bukan salahmu.
Ini hanyalah kebimbanganku sendiri dalam membangun duniaku.
Sama seperti Rama yang cemburu pada Rahuvana.

Dari beberapa tulisanmu, aku menyimak dan sesekali menasehati.
Seakan-akan aku adalah Tuhan.
Tapi sebenarnya, aku tak ingin jadi Tuhan.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa ada sesuatu yang lain dalam diriku.
Ya itulah awal aku membangun duniaku.

Dari satu tempat diduniaku yang lain, aku kembali mencarimu di dunia lain, yang manusia ciptakan dalam website yang disebut twitter.

Aku tetap mengagumi di dunia kecil itu.
Aku tetap melihat apa yang sedang kau tulis.
Aku tetap ingin merasakan apa yang sedang kau rasakan.

Aku orang teraneh yang ingin selalu ada didekatmu.
Lebih dekat dengan perasaanmu sendiri,

Aku mendekat, mendekat dan lebih dekat.

Duniaku kini tak hanya dihuni oleh perasaan dan prasangkaku.
Duniaku makin indah.
Hadirlah kini suaramu diatas ketenangan hatiku.
Hadirlah harapan untuk menjadikan duniaku nyata,

Tahukah kamu, bahwa aku adalah manusia aneh.
Yang kadang keinginannya seperti sajak puisi.
Tak pernah masuk akal sehat seperti manusia.
Tapi aku ingin membuktikan padamu.

Mungkinkah keinginan orang aneh ini tercapai.
Paling tidak untuk sampai didekatmu.
Menatapmu.
Mendengar teriakanmu secara langsung.
Atau cukup dengan tidak menjadi apa-apa dihidupmu,
kecuali menjadi supporter yang hanya ingin melihatmu menang.
dan bahagia?

sejak beberapa menit tadi sebenarnya aku tak bisa menjelaskan apa-apa padamu.
karena keterpisahan kita.


Senin, 19 Mei 2014

hangatnya berteduh

angin selalu memaksa..
masuk lewat tenggerokan, telinga, dan hilang..
suara-suaranya tak terdengar..
merayap rayap diatas awan dan matinya dimana?

gelap tanpa kasih..
rindu tertahan kecewa...
api api menjadi mimpi..
dan mati di tengah hampa..
mati lagi..
mati...
mati...
diam..

Kamis, 06 Maret 2014

sebuah cerita untuk hatinya

seorang gadis yang mungkin tak sama seperti gadis yang lain.
tapi dia sangat dekat dengan sesuatu yang ada dalam dadaku.
ketika dia mulai mengetik sesuatu.
aku anggap dia akan menyuguhkan cinta.

ah, ini pikiranku yang terlalu terbakar karena persamaan sifat kita.
ataukah aku ini benar-benar seekor bunglon?
cita-cita dalam dadaku, terlalu besar dan selalu memungkinkan kemungkinan yang tak mungkin.
kini kepalaku dilanda kegilaan.
cahaya-cahaya mulai kutemukan.
harapan-harapan berkecamuk dalam dada.
melepaskan teori-teori realita tentang ketidak-mungkinan.
ya inilah aku dengan kegilaanku yang kuanggap itu sebuah cinta untukmu.

andai Tuhan tak pernah memberi celah antar pulau,
mungkin ceritanya akan lain.
tunggulah sayang, aku masih belum tahu ini cinta, apa hanya kegilaan saja.
dan diantara beberapa garis yang ku tulis ini.
aku belum bisa menuangkan apa yang ku rasa.
belum bisa.

aku akan terus berdoa.
jika rasa ini benar adanya.
tentang rencana-rencana Nya yang tak terdunga;
jadikanlah pulau kita menyatu.
atau kita yang bertemu tanpa ujung perpisahan.

mungkin banyak lelaki yang ingin mengetahui perempuan yang disukainya berasal dari mana.
tapi bagiku, seperti para perampok terkenal Amerika berkata;
"ku tak mementingkan dari mana kamu berasal, tapi yang penting adalah tujuan kita nantinya"
ya mungkin itu tak begitu keren, tapi itu yang lebih ku suka.

love like

nothing like something..
everything is one thing...

love like something...
but no bird sing a love like love gave...

still liar like...
liar like love...
love is not like those mouth said...
love no one knows, but everyone feels...

Hidup Barumu Om



“Om, sampean gak ikut ?”
“Gak cong, kamu ajak adikmu saja. Bud! Denk-Bodhenk!”
Belum selesai dari makannya, si Budi yang akrab dipanggil bodhenk oleh teman-teman dikampungnya langsung mencuci tangan dan lari ke teras dimana Muslim dan Bapaknya mengobrol. Sambil mengiris kayu kapuk untuk dijual sebagai sangkar burung labet-nya.
“Sana kamu ikut kak Muslim”
“Kemana pak?” budi kebingungan dengan lapar yang belum selesai
“Ngaterin Embahmu ke rumah pak Rosid, Embahmu sakit sudah dua minggu sebelum kamu datang.”
“Oh, iya pak, tunggu sebentar aku ganti baju dulu”
“Ya, cepetan. Sudah ditunggu sama kak Muslim dipinggir jalan”
“Yaaa sek”, secepat sapi yang bokongnya ditusuk paku, Budi pun berangkat.
Digandengnya embahnya dengan pelan oleh Budi.  Seperti pasangan manten, cucu dan neneknya itu berjalan dengan sangat berhati-hati. Keriput kulit si Embah seperti tulang yang ditempel daging dan bisa berjalan. Budi sangat khawatir pada embah yang sejak SD selalu memberi uang saku dan beberapa gorengan sebelum dia berangkat ke sekolah itu.
Di depan pekarangan rumah Nodin, paman kandung Budi yang masih bermusuhan dengan Niro, bapak kandung Budi sendiri. Tak akan ada percakapan yang pernah terjalin antara Budi dan Nodin atau Niro dan Nodin. Bagi Budi dan Bapaknya, Nodin adalah sosok pembuat onar, bajingan! dan sekarang memelihara beberapa pramunikmat di rumahnya. Akhirnya sampailah Embah didepan mobil yang bertuliskan Honda jazz. Rupanya Muslim meminjam mobil tetangga dibelakang rumah Budi yang juga bermusuhan dengan Nodin. masuklah semua penumpang didalam mobil putih itu, termasuk istri Nodin. Seperti mobilnya sendiri, dia duduk didepan. AC dinyalakan, dengan pelan dan sedikit ngadat, mobilpun melaju.
“Eh, ternyata kamu sudah bisa nyetir mobil Lim, sejak kapan?” Basa-basi istri Nodin bertanya pada Muslim.
“Sudah lama Nyah, tapi jarang nyetir aja”
“Lha ini mobil siapa cong?” Muslim kebingungan dan agak sungkan jika harus berkata jujur bahwa itu mobil tetangga yang bermusuhan dengan Nodin.
“Oh, ini mobil kak Fathor Nyah” akhirnya Muslim pun terpaksa berbohong.
Lima menit perjalanan, sampailah rombongan tadi dirumah Kadir, bapak si Muslim. Dari dalam rumah Fauzi, kakak Muslim memopong Kadir menuju dalam mobil. penampilan Kadir kali ini sangat berbeda. tulang-tulang dengan mudah bisa diterawang, lingkar kedua mata mencekung kedalam dan kedua matanya seakan ingin keluar dari kantungnya. Kini kegagahannya seperti luntur walau kumisnya tetap panjang dan dibiarkan tebal. bergemetaran dia memasuki mobil. Pintu yang tak selebar mobil L-300 membuat kadir agak kesusahan. Tapi dengan bantuan Fauzi dan Budi, akhirnya dia bisa masuk dalam mobil dengan gampang.
“e, been lek? kapan datang?” Fauzi baru sadar kalau didalam ada Budi
“Kemarin kak aku datang. sekalian jenguk Embah”
“Semester berapa sekarang?”
“Mau ke semester 6 kak”
“Hampir lulus berarti? gak sambil kerja disana?”
“Ya, kurang tahu juga kak kapan lulusnya, sementara ini gak kerja kak, kalau kemarin sempat jualan roti goreng”
“Sambil cari kerja kalau bisa, biar meringankan Bapakmu.”  Budi hanya bisa heran dan berkata dalam hati.
“Sampean ya kerjanya juga belum ketahuan apa, malah menasehati aku” Budi tersenyum walau hatinya bergejolak.
Masa-masa muda seperti Budi memang sepertinya cepat membakar amarahnya, apalagi didalam mobil dengan cuaca yang cukup panas.
Sementara itu, disisi Fauzi, tubuh kadir bergetar dan matanya terpejam.
“Adoh, lalalala, porah ALLAH” kadir merasakan sakit yang tak tertahankan didadanya.
“buka matanya pak, jangan sampai tertidur! ini minum air pak” Raut wajah Fauzi penuh kekhawatiran sangat jelas terbaca.
“SEHAT! SEHAT! SEHAT!, ALLAHUAKBAR!” sambil menepuk-nepuk dadanya, Kadir berseru.
“Sudah? sudah masuk semuanya?” Muslim mengkonfirmasi
“Sudah” Jumiati istri Kadir yang juga ibu Muslim menjawab.
Mobil pun berjalan pelan, hawa didalam mobil lumayan panas. sepertinya Kadir juga merasakannya. dengan tak terkontrol Kadir bertanya pada Muslim yang sedang menyetir didepan.
“Nak, apa tak ada AC nya mobilnya! kok panas panas begini?”
“Oiya pak, lupa tak ku nyalakan”
“de`remmah been cong! masih muda kok sudah lupa” sambil tertawa, Usman, paman muslim menyela.
suasana mencair, mobil berjalan masih ngadat-ngadat, seperti tak terisi bensin. Sepertinya Muslim kelelahan siang itu, karena dia baru saja datang dari Surabaya mengantarkan pelanggan tetangganya ke Juanda.  Kesejukan mulai terasa ketika didalam mobil. Budi merasakan kenyaman di pojok belakang dengan berdiam tak berkomentar tentang apapun. Terminal lama Pamekasan tak sadar telah terlewati. Mobil sudah melaju agak kencang. Tiba-tiba di pertigaan ada motor yang menikung sembarangan, yang hampir membuat mobil yang ditumpangi mereka menambrak motor itu. Semua yang didalam mobil berteriak kaget, kecuali Budi yang berlagak keren memendam kagetnya.
“ooo, Patek jih!” Muslim mengumpat.
“Ludahi saja cong!” Kadir menjawab dengan mata memerah.
“Kalau orang sembarangan seperti itu, mending kamu ludahi aja, tak usah takut!” sambung Kadir lagi.
“Hush! apa sih pak, kamu lagi sakit, sudahi mengumpatnya! dzikir aja! dzikir pak”
Kadir pun mereda dengan kata-kata Fauzi yang sudah berhari-hari merawatnya.
“Sudah tak usah ngebut cong, yang penting selamat” saut Jumiati
“Kalau pelan, kapan sampainya mak?” jawab Muslim
Dari belakang Kadirpun tak mau kalah menjawab.
“Diam Ju, dzikir yang banyak!”
Usman, Budi dan Muslim pun tertawa dalam hati melihat tingkah orang-orang yang sakit. setelah 10 menit, akhirnya sampailah rombongan di Rumah dokter Mursid. Semua orang masuk kepekarangan rumah yang ternyata didalam sudah banyak pasien yang mengantri.
“Kita nomor berapa om? ” Budi bertanya pada Usman.
“nomor 401,402,403,404”
“Oh, sebentar lagi Mbah” Budi berbisik pada Embahnya yang sebelumnya bertanya.
Kadir dan Jumiati terlentang diteras Dokter Mursid, dokter yang cukup memilki nama walau hanya berpraktek dirumahnya saja. Seluruh badan kadir bergetar seperti rebana yang ditabuh tangan-tangan yang berurat. Matanya yang keriput tak sanggup untuk menahan rasa ingin memejamkan mata. Dari mulutnya keluar sedikit busa. Setengah jam kemudian, Kadir bangun meminta air pada Usman. Sebelum air sampai pada perutnya, Kadir menegang. Seluruh tubuhnya mengeras seperti kerasukan. Matanya mendelik ke wajah Usman. Dengan sabar Fauzi menyuruhnya berdzikir. Dibisikan dzikir oleh Fauzi lewat telinga kadir. Jumiati walau dalam keadaan sama-sama sakit, duduk sigap sambil memijiti tangan suaminya itu. 5 detik kemudian, Kadir pun sadar dan menepuk dadanya begitu keras.
“SEMANGAT! SEMANGAT! SEMANGAT! , mana Fauzi? mana tanganmu nak?”
“Sudahlah pak tak usah banyak bergerak, dzikir aja” diingatkan lagi oleh Fauzi.
“Bud, Budi, mana Budi zi?” kali ini giliran Budi yang ditanya.
Budi diam pura-pura tak mendengar panggilannya, tapi Muslim dan Usman memaksanya.
“Sana samperin cong, iya sana lek!”
Budi akhirnya mendekat dengan penuh pertanyaan dalam hatinya, penyakit apa yang menimpa Pamannya ini.
“Iya Om, aku disini. Ada apa?”
“Hati-hati kalau hidup dikampung orang ya nak! jangan membuat onar. Kuatkan imanmu. Kasihani orang tuamu yang selama ini telah banting tulang membiayaimu. Kirim Fatehah pada Junjungan Nabi Muhammad setelah sholat jangan lupa.”
“Enggi om”, Budi hanya menjawab pendek, tapi dalam hatinya ada keresahan tentang akhir kehidupan pamanya itu yang sepertinya mendekat.
Budi kembali ketempatnya duduk dengan Embahnya. dijulurkannya oleh Embahnya sebuah permen kepadanya. Kali ini kekhawatiran lebih mendalam dia rasakan pada wanita tua itu. Orang yang selalu mencarinya ketika dia sampai diteras rumah, sesampainya dari perantauan mencari ilmu.
Akhirnya semua pasien dari rombongan diperiksa dan diberi resep-resep herbal oleh sang dokter. Kadir rupanya mengidap radang paru-paru.
Setelah diketahui penyakitnya, Muslim pun selalu mewanti-wanti disepanjang perjalanan pulang. Sampai-sampai  mobil yang di stirnya itu hampir menabrak Truk didepannya. Embah yang kaget berseru ketakutan.
“Dhu, dhu, awas cong!”
“Apa Mbah, tenang aja” jawab Muslim
“Ini jalan apa ya?” tanya si Embah pada Usman
“Ini smk 3 buk, sebentar lagi belok ke kanan ketemu dengan yusup, penjual es langganan sampean”
“Ow. ini belok ke barat ya?”
“Barat mana Mbah? ini belok ke utara” Budi menjelaskan.
Usman dan Muslim tertawa. Semuanya sudah sampai di rumah, Budi memopong Embah lagi menuju rumah. Diteras rumah Niro masih mengiris-ngiris kayu kapuknya.
Besok Budi harus kembali ke Malang melanjutkan kuliahnya. Budi berdiam merenung sendiri didekat bapaknya yang mengiris-ngiris kayu. Ingin membaca novel “Syeh Siti Jenar 2” tapi novelnya masih tergeletak dikamar Bapaknya.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ketika Budi sudah berada dimalang, penyakit Kadir makin parah. Semua anggota keluarga panik, termasuk Niro. Muslim membelikan berbagai macam makanan yang diminta Kadir. Herannya makanan yang diminta adalah makanan yang enak-enak bagi orang-orang menengah kebawah. Ayam goreng, Pecel blitar, sate kambing. Dengan sabar Muslim menuruti kemauan Ayahnya itu. Akhirnya timbul rasa lelah dan kantong terkuras. Muslim pun menggerutu dalam hatinya tentang yang tidak-tidak. Hari berikutnya darah Kadir menurun menjadi 50. Terpaksa Kadir harus di infus dan dipindahkan kerumah Muslim yang lebih besar dan bersih. Darahnya mulai kembali normal. Dimalam berikutnya, Niro tak tidur dan begadang di depan rumahnya. ternyata tanpa sepengetahuan siapapun. Kadir melepas selang infusnya pada malam itu.
Ketika Muslim masuk, Kadir sudah terengah-engah menahan sesak yang tak tertahankan. Niro sudah merasakan apa yang akan terjadi. Dan benar saja malam itu kegagahan Kadir, patah melepuh dengan keheningan dalam dadanya. Kini yang tersisa adalah penyesalan atau kebahagiaan. Dari Malang, Budi mendoakan dan Semua orang mendoakan. Warno anak pertama  yang masih sakit hati, akhirnya memaafkan kesalahan bapaknya itu lantaran di wanti-wanti seorang Kiai, bawa bapaknya tinggal menunggu maaf darinya. Niro dengan sakit, tetap tersenyum melihat kejadian itu. Dia berangkat dengan Usman dan Muslim membawa linggis dan cangkul membuatkan rumah seindah mungkin untuk Kadir.


rumit

aku tak pernah percaya.
aku tak pernah mempercayai hatiku sendiri sekuat ini.
sekuat sakit menahan rindu terakhir.


Klise

“Berapa lama lagi kau mengurungku dalam api kerinduanku sendiri?”
“loncatan-loncatan pikiran dan keinginan bersamamu telah terpampang bahkan meleleh sampai menutupi indraku”
Dia, terus saja menggumam dalam hatinya di kamar berwarna pink dengan hiasan pernak-pernik hitam kesukaannya. Menatap awang-awang bibir mengecup hampa dengan hati yang berdegup berirama. Jatuh cinta, bukan hanya sekali ini dia jatuh cinta, tapi mungkinlah ini yang terakhir. Seorang pria tampan pilihannya. Seorang penjaga keamanan negara, gagah perkasa tubuhnya, senyumnya menciptakan lesung pipi keharmonisan kecupan seorang bakal pahlawan negara. Kini tak perlu lagi dia mencari lagi. Sang perawan kegirangan mengakhiri ke acuhannya pada setiap lelaki penggodanya dan semua miliknya hanya tertuju padanya; “My love”, begitu gumamnya.
Selalu begitu Rani, selalu rindu kasih sang pahlawan. Sebelum kedatangannya saja, kepada tetangga, kerabat, teman dan sahabat, betapa senangnya hatinya menyebut kata “My love”. Dalam wajah cerianya dia selalu bercerita dengan memeluk guling dengan erat, seperti guling itu adalah sang “My love”. Tak berhenti dia memuja pahlawannya, kegagahan suaranya, kecap halus bibirnya, getaran-getaran resonansi suara yang tepat mengenai hatinya, meniupkan Rani dalam istana raja-raja Histeria.
“ibu, kapankah sebenarnya My love akan datang?”
“mengapa tanya ibu nak? Mengapa tak tanya padanya? Bukankah kekasihnya adalah dirimu?”
“ah ibu, bisa saja membuatku malu”
“tenang nak, sabar ya, kata calon mertuamu dia akan datang 5 hari lagi, sekarang dia sedang membela negara kita!”
“oh My love, oh kasihku hanya milikmu, tak akan aku beranjak dari kamar ini. Agar memastikan aku tak tersentuh oleh burung-burung pelatuk yang pandai berpuisi.” sang Ibu hanya tersenyum mendengarnya.
“ya sudah, tidur dulu ya sayang, sudah larut.”
“tidak ibu, aku tidak bisa tidur tanpa merasakan hadirnya dahulu”
“hmm, kamu ada-ada saja. Ibu sudah gak kuat. ngantuk. bye, good night darling”. Reduplah lampu kamar, tapi belum redup hati Rani.
Seorang perawan kini harus begadang karena cinta yang yang memaksanya untuk tidak tidur sampai tengah malam. Mimpi-mimpi sebelum mimpi membawanya pada kedamaian yang tak terduga dengan banyak keinginan. “My love pasti sedang mengangkat senjata dengan gagah di medan laga melawan pada teroris-teroris, atau dia sedang melawan rindunya seperti yang ku alami tiap malam?”. Begitulah cinta Rani, cinta yang tak pernah luntur, bahkan terus bersinar layaknya fajar yang bersinar di ufuk timur Mayapada. Kehadirannya didalam mimpi yang sebernarnya tak dapat dibedakan oleh Rani. Kini dia telah pulas dengan nafas-nafas halus yang membuat malam makin indah. Tak ada yang sadar dari balik jendela kamar Rani ada Shiro, seorang sastrawan dan pelukis pinggir kota yang datang setiap malam mengamati tidur Rani sekaligus menuangkan penglihatannya dalam sketsa dan nantinya akan menjadi pajangan dikamarnya. Sudah lama Rani tidak keluar rumah untuk melecehkan Shiro, setelah terdengar kabar jika Rani sudah bertunangan. Shiro ternyata merindu ucapan-ucapan mesra Rani padanya. Ketika Rani merobek-robek sketsanya dipinggir jalan sampai menjadi bagian-bagian kecil, ketika Rani menendang tubuhnya ketanah, waktu Shiro ketahuan membuntutinya dengan sepeda ontel lawasnya dan semua itu menjadi pahit yang memaniskan hati Shiro. Shiro tak seperti lelaki lain, meski dia bisu dan memiliki badan yang kurus, dia tak pernah patah semangat untuk mengejar cintanya. Dia tak pernah tahu siapa ibunya dan siapa bapaknya, tapi dia tahu bahwa Tuhan yang selalu menjaganya.
Sejak kecil Shiro diasuh oleh keluarga penjaga pemakaman umum di desa Khumbakarna. Desa kecil pinggir kota yang mayoritas penduduknya petani, pemulung, penjudi, mafia, rampok dan lain-lain. Kini Shiro hanya bekerja sebagai penjual gorengan sang nenek di perempatan kota. Sempat ingin menjadi Pahlawan negara, tapi dia mengurungkan niatnya, karena dia ingat kembali bahwa dia bisu dan tak memiliki banyak uang untuk menyogok atau membayar calo.
Kini sudah hari ke lima, seharusnya siang ini sang “My love” sudah datang kerumah Rani beserta calon mertuanya. Tapi bahkan tak ada nada derap langkah teratur tentara yang menuju pintu rumahnya. Rani mulai cemas hari ini. Dia mencoba menghubungi pujaan hatinya dan menghubungi mertuanya tapi semua inginnya sia-sia. Akhirnya cemasnya berubah menjadi ketakutan yang mendalam dengan keadaan sang kekasih. Setelah adzan mahrib, rani nekat keluar rumah menyusuri jalan raya yang sudah lima hari tak dilihatnya. Dari belakang, Shiro membuntutinya dan mencoba membaca gerak gerik wajah Rani yang mengendarai motor tanpa helm. Menggayuh sepeda ontel secepat mungkin untuk mengetahui raut wajah pujaan hatinya Shiro sampai tak sadar dan tak ingin sadar bahwa yang dia lakukan hanya sia-sia. Beberapa orang dipinggir jalan yang melihat shiro, bertanya-tanya sekaligus menertawakannya. Mereka anggap Shiro gila. Pemuda penjual gorengan dengan pakaian kumuh mengejar wanita anggun dan cantik yang jarang terlihat dikota.
20 menit kemudian sampailah Rani kerumah My love nya itu. Disana tak ada keramaian atau bahkan sambutan untuk menyambut kekasihnya. Sunyi dan sepi dengan kegelapan teras depan, yang terang hanya lampu di ruang tengah. Dari balik pohon asam yang cukup tua Shiro masih mengintai.  Diketuklah pintu rumah kekasihnya oleh Rani, ternyata yang membukanya adalah Sang kekasih. Tak terduga sama sekali apa yang kini dilihatnya. Didepannya berdiri tegak sang kekasih tampan dengan kepala dipotong persegi. Lesung pipinya waktu tersenyum menatap kekasihnya masih menggelorakan nafsu Rani. Tak sadar rani selangkah maju dan memeluk tubuh gagah kekasihnya. Merangkul bagian belakang lehernya dan menangis dibahunya. My love hanya tersenyum bersikap dingin seakan-akan dia tak bersalah dan tak merasa punya janji akan kerumah Rani. Melihat terangkat senyum kekasihnya, Rani langsung mengecup bibirnya. Namun Rani semakin kecewa karena bibir My love tak bergerak sedikit pun kecuali badannya yang tegap bergerak mundur. Seakan-akan My love mengisyaratkan Tubuhnya yang tak bernafsu, mesti kalah dengan Rani yang menggebu.
“kenapa sayang?! Ada apa? Kenapa membisu?” My love tersenyum, terdiam dengan pandangan kosong.
“ada apa sebenarnya kasihku? Mengapa kau berubah?” di kecup labi bibir My love sampai terluka.
My love hanya mengerutkan kening dan duduk dikursi teras rumahnya. Sepertinya My love sedang mengalami kegilaan, tapi entah apa penyebab kegilaan itu. Rani masih kebingungan menangis merangkul kakinya.
Tiba-tiba hati dan pikiran Mylove menggerakkan bibirnya untuk berbicara.
“Untuk apa Adik kesini?”
“Apa? Adik?”
“Salahkah aku memanggil begitu Adik manis yang kecanduan masa depan?”
“Apa maksudnya? Jangan bercanda! Kamu itu tunanganku! Jelaslah kamu masa depanku!” Telinga Rani sudah memanas.
“Masa depanmu bukanlah aku! Masa depanmu adalah uang! Pulanglah kerumahmu Adik, aku akan memperbaiki semuanya dari awal.”
“Kenapa kau berucap seperti itu? Apa kau tak pernah merindu padaku? Lelaki apa kamu ini! ” Rani mengejar dengan pertanyaan lain.
“Maafkan aku, aku bukanlah lelaki baik-baik pembela negara seperti yang kau katakan ditelepon. Aku hanya lelaki yang numpang hidup dan membesarkan perutku dari negara. Aku bahkan tak pernah melihat teroris di ibu kota. Aku sudah jarang melihat negara-negara tetangga melanggar perbatasan negaraku. Jika ada mungkin itu hanya akal-akalan neraga A yang memiliki hutang banyak ke negara B sehingga negara B melanggar perbatasan, dan kita ketakutan. Tanpa pikir panjang kita membeli senjata dari negara A. Dan hutang negara A terlunasi kepada negara B!
“Apa yang kau katakan!?”
“Sudah pulanglah adik, wanita secantik kamu akan hilang kecantikannya jika menikah denganku. Aku ini penikmat gaji buta dan bukan bekas pahlawan. Aku pembela pemilik uang dalam kasus-kasus sengketa lahan. Ya itu aku! Apalagi yang kau ingin dariku? Jika kau wanita dengan kehormatan diatas awan, mengapa kau menungguku yang jelas-jelas jelata. Kenapa kau menginginkan masa depan yang tak lain hanyalah materi yang membuatmu kaya?
Akhirnya semua yang disembunyikan atas keinginan-keinginan Rani pun runtuh seketika. Dengan pipi yang tak pernah kering, Rani melangkah menguatkan diri untuk pulang. Shiro yang mengetahui percakapan keduanya berlari bersembunyi dan ketika Rani benar-benar menghilang, Shiro menghampiri kekasih Rani itu.
“ya lebih baik begini saja bukan? kau boleh menulisnya atau melukis kesalahanku dikanvasmu! Setelah ini aku akan memilih menjadi orang gila. Karena hanya orang gila lah yang bebas dari penindasan dan jerat hukum di negaraku ini. Bersyukurlah menjadi bisu, karena lidahmu tak akan pernah melukai hati manusia lain”
Shiro terdiam dan tak memberikan isyarat apa-apa pada My love, kecuali air liurnya turun membasahi tenggerokannya untuk meredakan kagetnya.

Kamis, 20 Februari 2014

absurd yang kegatelan

aku mau menulis...
coba lihat, aku...
aku mau bekerja...
coba lihat, aku...
aku mau mencintainya...
coba lihat, aku...
dan dari tadi aku menyuruhmu melihatku,
kau hanya melihat uangku...
mengapa selalu begitu?
kau mau lembutku, sedang tidak pada kasarku..
kau mau putihku, tapi tak pada hitamku..
sehingga begini saja aku malas...
sehingga begini saja aku lemas...
cobalah sedikit, atau kamu intiplah hatiku...
bercahaya kah hatiku? atau redupkah?
coba benarkan itu, sehingga kita bisa bangun rumah yang terang benderang...
tak pernah terkalahkan oleh parang-parang kehidupan busuk ini!