Mendung
tak disangka sudah mengganti awan-awan putih siang itu, ketika Warno dan Fauzi
berada di bak mobil pick-up tua. Ditemani keluarga besarnya, mereka hanya diam
dan tak mau tahu tujuan mobil itu kemana. Terpal-terpal penutup diatas kepala
mereka membuat kebisingan siang itu. Kemudian bapak mereka mulai berkata.
“Nanti
jika kalian berada disana, jagalah sikap dan perilaku kalian! Jangan buat malu
aku!”
“Iyalah
pak, santai saja” jawab Warno sambil memasang wajah ketidakpeduliannya.
“Yang
benar kamu kalau menjawab! Minta digampar? coba bilang gampar! Kalau tak ku
gampar sungguhan, jangan sebut aku Kadir cong!
“Sudah
kak, tahan emosinya. Sebentar lagi kita sampai di pesantrennya” Niro, ipar
Kadir mencoba melerai.
“Sudah
tahu bapakmu seperti itu, kamu tetap saja melawan” berbisik Jumiati anak
pertamanya itu.
Fauzi
hanya diam dan tak mau ikut campur dalam percekcokan antara bapaknya dan
kakaknya karena dia merasa masih kecil dan tak pantas ikut campur. Beberapa
menit setelah itu akhirnya rombongan mobil pick-up itu tiba di sebuah mesjid di
pinggir jalan. Mesjid itu milik Kyai Mustofa, yang cukup disegani di negeri
seribu garam itu.
Dari
rumah cukup besar di samping mesjid, datang lah seorang lelaki cukup tua dengan
beberapa beberapa dua pemuda dan dua wanita. Sopir pick-up pun berbisik
ditelinga Kadir.
“Ini
lho pak kyai nya.”
Segera
mungkin Kadir membenarkan peci hitamnya yang tinggi, menyisir kumis panjangnya
dan langsung bersalaman sambil membungkukkan badan. Kadir sangat lama untuk melepas
tangan Kyai Mustofa tersebut. Kadir menganggap Kyai Mustofa adalah panutannya.
Berjabat tangan dengannya merupakan kesempatan yang sangat langka, apalagi
mencium tangannya yang halus dan harum wewangian dari Kota Mekkah. Sambil
bersalaman, ternyata Kadir menyelipkan amplop kepada pak Kyai. Pak Kyai pun
sepertinya sudah terbiasa dengan amplop ditangannya.
Dari
kejauhan, Niro terheran-heran dengan Kadir yang sedang mencium tangan pak kyai.
Entah kesurupan setan apa si Kadir langsung tunduk dan membungkuk hormat pada Kyai
itu.
Di
lain pihak Jumiati, Istri Kadir juga bersalaman dengan dua wanita berjilbab
yang berada dibelakang pak Kyai. Ternyata mereka adalah Istri Kyai dan anaknya
yang masih muda. Seperti halnya Kadir, Jumiati mencium tangan istri pak kyai
dan menyelipkan amplop juga lewat tangannya. Akan tetapi Jumiati menjatuhkan
amplopnya. Jumiati yang sedikit latah, sontak berteriak “pokenah geger lek”.
Nur istri Niro menepuk bahu Jumiati dan berbisik.
“Aduh
bhuk,
jangan keluarkan kata-kata itu didepan ibu nyai” Sambil menahan ketawa Nur
menasehati Jumiati
“Ya
mau apa lagi, la wong reflek dek” Masih dengan tangan menutupi mulut, Jumiati
berbisik juga pada Nur.
Istri
pak Kyai merasa heran kepada Jumiati dan dia memaklumi Jumiati berkata seperti
itu, karena dia bukan keturunan Nyai. Syamsiah, anak bu Nyai juga menahan tawa
seperti Nur. Syamsiah adalah perempuan yang paling cantik dan bermartabat di
pesantren itu. Selain pintar, dia juga sudah sering membantu pak kyai mengajar
murid-muridnya dipesantren. Rupanya Fauzi dari tadi tak berhenti memandangi
Syamsiah. Begitu pula Syamsiah juga memandangi Fauzi, lelaki muda dengan mata
tak terlalu sipit, dengan janggut tipis didagunya, rasanya semakin menambah
rasa penasaran Syamsiah. Keduanya sepertinya ingin saling mengenal tapi mereka
sama-sama malu. Sedangkan Warno tak peduli dengan gadis cantik itu. Yang ada
dipikirannya hanyalah bagaimana cara untuk pulang dan bisa bermain dengan
teman-temannya dirumah.
Setelah
cukup bersalaman, rombongan pun dipersilahkan masuk ke rumah pak Kyai. Di waktu
itulah Kadir mengutarakan dengan halus keinginannya untuk menitipkan anaknya
dipesantren itu. Satu persatu hidangan dan camilan dikeluarkan oleh Syamsiah.
Dan Fauzi semakin tertarik pada wanita itu karena selain cantik, dia juga cakap
dalam melakukan berbagai hal rupanya. Pipi Syamsiah bertambah merah karena dia
malu dan sadar kalau dia sering dipandangi oleh Fauzi.
Setelah
selesai bercakap-cakap dengan pak Kyai, rombongan segera pamit untuk pulang dan
meninggalkan Warno dan Fauzi di pesantren itu. Fauzi tak tahan menangis melihat
orang tuanya meninggalkan dirinya dipesantren, sedangkan ekspresi wajah Warno
biasa saja, seperti tidak ada apa-apa. Jumiati juga tak kuasa menahan kucuran
air matanya. Di bahu Kadir dia menangis dan berkata-pada keduanya.
“Tenang
Nak, sebulan sekali kami kirimi beras dan kebutuhan lainnya”, Dari atas mobil wanita
paruh baya itu berteriak.
Tiga
bulan pertama kiriman makanan dan uang tak pernah telat datang. Dan dibulan ke-4
semuanya berubah. Ketika Kadir makin gila bermain togel dan uang Jumiati dari
hasil berjualan gorengan sudah tak cukup membiayai anaknya. Warno pun pulang.
Akhirnya dia menemukan alasan yang tepat untuk pulang. Kedua orang tuanya pun
tak berani memarahinya. Sedangkan Fauzi masih bertahan disana. Dia berusaha
mencari uang lain dengan bekerja sebagai penjaga warung milik ibu Nyai. Berbeda
dengan fauzi yang berbakti pada orang tua, sekarang Warno juga mengikuti jalur
bapaknya. Dia bermain togel, menjadi preman pasar dan senang menggoda banyak
wanita. Suatu hari, bapak dan anak itu bertengkar lagi, karena Warno sudah
membangkang. Dengan motor GL-max nya Kadir mencari Warno dan membawa celurit.
Dia ingin menantang anaknya carok karena sebagai seorang bapak, Kadir sudah tak
didengar dan merasa harga dirinya diinjak oleh anaknya sendiri. Di waktu mahrib
Kadir datang kerumah mertuanya mencari Warno.
“Mana
Warno mak! Keluar kamu cong kalau berani” sambil teriak dia mengangkat
cluritnya.
Mertuanya
kaget dan menangis karena tak tega jika terjadi apa-apa pada keduanya. Karena
usianya sudah lanjut, dia pun duduk dan mengusap air matanya dengan
selendang-selendang usang yang dia pakai. Warno akhirnya keluar rumah menemui
tantangan bapaknya.
“Apa
pak? Kok sepertinya begitu angkuh sampeyan? Kamu sudah tua pak, ingat umur! Aku
tak mau membunuhmu!”
“Apa
kamu bilang?” Kadir sudah memegang kerah bajunya, tinggal memenggal leher
pemuda itu saja.
Mertuanya
dan tetangga yang melihatnya berteriak histeris dan tak berani melerai, karena
ini urusan keluarga.
“Ada
apa kak? Sudah duduk saja dulu, taruklah celuritmu. Malu sama tetangga”, Niro
datang mendinginkan mereka.
“Tidak
bisa ro, anak ingusan ini sudah membuatku muak”, bantah Kadir kepada Niro
“Anak
siapa kak? Anakmu kan? Ayo duduk dulu” perlahan Niro menarik clurit Kadir dan
suasana menjadi tenang.
Malam
itu juga Warno meminta maaf dan menunduk pada Kadir. Akhirnya keduanya sudah
akrab bagaikan teman. Dimana-mana berdiskusi togel bersama. Niro sekali lagi
menyimpan keanehan ini dan tak berani menjelekkan mereka.
Sudah
berjalan enam tahun di pesantren, ternyata Syamsiah memang jodoh Fauzi dan
mereka menjadi suami istri. Kali ini adik Fauzi yaitu Muslim dan Jonny akan
dititipkan ke pesantren itu juga. Semua anggota keluarga besar kecuali Niro tak
ikut mengantar mereka ke pesantren. Air mata Jumiati tak lagi berjatuhan
sederas ketika dia mengantar Warno, karena dia trauma dan takut nasib mereka
sama membangkang seperti Warno.
Selang
dua tahun keduanya sudah tidak betah dan kembali pulang kerumah. Kali ini
Jumiati pasrah dengan kemauan anaknya. Meskipun Kadir memarahi mereka didepan
Jumiati, Jumiati tak peduli sedikitpun. Dia sudah lelah dan sekarang yang ada
dipikirannya hanya mencukupi kebutuhan mereka sampai dirinya meninggal. Suatu
hari pertengkaran kembali terjadi. Akan tetapi bukan antara bapak dan anak,
melainkan antara Warno dan Muslim. Keduanya sudah saling jotos akan tetapi Niro
memarahi dan melerai mereka. Mereka pun berdamai dan meminta maaf kepada Niro
karena telah mengganggu waktu istirahatnya disiang hari. Setelah itu Muslim pun
ikut jalur Warno dan bapaknya menjadi penikmat Togel. Dan lebih parahnya kali
ini Muslim menjadi anak buah bandar togel itu sendiri.
Jonny
tidak seperti ketiga kakaknya. Dia lebih memilih untuk mengalah dan menjauh mencari
sesuatu yang baru. Sampai akhirnya dia pindah konsep kepercayaannya menjadi
Islam Muhammadiyah. Dia membiarkan janggut-janggutnya panjang dan berkata pada
neneknya.
“Memelihara
jangut itu sunnah rosul Mbah!”
“Apa
pentingnya sebuah janggut untuk kau tiru? Bukankah lebih penting kau meniru
keteladanan Rosul, dari pada janggut-janggutnya saja?”
Dari
kejauhan Niro menjawab dan mencoba meluruskan Jonny. Jonny pun tak bisa
menjawab dengan logika dan hanya menjawab.
“La
wong kata ustad seperti itu Om.”
Niro
pun tak ingin berdebat dengan Jonny karena dia sudah memahami bahwa Jonny
kurang kritis karena pendidikannya hanya sampai sekolah dasar dan setelah itu
dikirim ke pesantren. Sama seperti ketiga kakaknya.
Niro
tak pernah memandang mereka sebelah mata dan menganggap mereka bodoh. Mereka
hanyalah korban dari kesalah-pahaman pemikiran mereka tentang pesantren dan
agama mereka. dan Kadir selalu lupa dengan papatah “tadhek aeng agili ka oloh”. Lihat saja keempat anaknya, mereka
adalah pemuda pewaris sifat-sifat kadir ketika muda dulu.
Niat
Kadir juga bagus, mengirim mereka kepesantren agar mereka tak berkelakuan
seperti dirinya. Tapi ada hal yang perlu dipertanyakan oleh Kadir dan
Kadir-kadir lainnya di pulau seribu garam ini. Mengapa kadang kita mencium tangan
dan tunduk kepada Kyai? Sedangkan pada Ibu sendiri kita jarang bahkan tidak
pernah menunduk hormat padanya. Dimana letak konsep Buppa`-Babhu-Guru-Rato
mereka? Guru atau Kyai ada di nomor tiga setelah Bapak dan Ibu, tapi mengapa
seakan-akan Kyai menjadi nomor satu? Yang paling tak masuk akal, kita rela
saling bercekcok, beradu argumen, berkelahi, sampai melakukan Carok demi
membela Kyai panutan kita dalam pemilihan Bupati tahun ini. Jika harus membela
kehormatan diri sendiri, mungkin bisa dimaklumi mereka bertengkar. Tapi ini
membela harga diri orang lain dan orang yang dibela tak akan mungkin memikirkan
mereka, apalagi jika sudah nyaman diatas Singgasana.
“Kamu
mengerti apa yang ku maksud kan, Cong?”
“iya
pak” , jawab Budi