Rabu, 11 Desember 2013

disrespectable death


come the time
when you destroy your role
when happiness come with affair
desire always on high level
you careless with consequence
wife of husband that you love
make you blind and deaf
make you forget your right way
today not all the same
all eyes have known
the story going to the end
fourteen eyes sickle outside
waiting you to make a *dancing death
one sickle waiting you inside
deliver to new start
the darkness came
without cloud of dust
the time have come
when you enter to a butcher room
you only bring your body
without worry
closer and closer to illegal wife
sickle seen front of forehead
running away to walfare
but other sickle kiss your neck
like you kissed by the girls
there is no time to shock
many time to see the angel
the clean sickle
close your story intravenously
your true wife cry without tears
she love you,but she reluctant to sad
alone bring you to hard bed
there is no who pays respects to you
blue sky reflect the red ground
you leave the white eye adhere on your unreal life
you leave sin on your true life
all will be a good wisdom


malang , 16-11-2011

*song of avenged sevenfold


Parokon tor Pangasteteh



Mendung tak disangka sudah mengganti awan-awan putih siang itu, ketika Warno dan Fauzi berada di bak mobil pick-up tua. Ditemani keluarga besarnya, mereka hanya diam dan tak mau tahu tujuan mobil itu kemana. Terpal-terpal penutup diatas kepala mereka membuat kebisingan siang itu. Kemudian bapak mereka mulai berkata.
“Nanti jika kalian berada disana, jagalah sikap dan perilaku kalian! Jangan buat malu aku!”
“Iyalah pak, santai saja” jawab Warno sambil memasang wajah ketidakpeduliannya.
“Yang benar kamu kalau menjawab! Minta digampar? coba bilang gampar! Kalau tak ku gampar sungguhan, jangan sebut aku Kadir cong!
“Sudah kak, tahan emosinya. Sebentar lagi kita sampai di pesantrennya” Niro, ipar Kadir mencoba melerai.
“Sudah tahu bapakmu seperti itu, kamu tetap saja melawan” berbisik Jumiati anak pertamanya itu.
Fauzi hanya diam dan tak mau ikut campur dalam percekcokan antara bapaknya dan kakaknya karena dia merasa masih kecil dan tak pantas ikut campur. Beberapa menit setelah itu akhirnya rombongan mobil pick-up itu tiba di sebuah mesjid di pinggir jalan. Mesjid itu milik Kyai Mustofa, yang cukup disegani di negeri seribu garam itu.
Dari rumah cukup besar di samping mesjid, datang lah seorang lelaki cukup tua dengan beberapa beberapa dua pemuda dan dua wanita. Sopir pick-up pun berbisik ditelinga Kadir.
“Ini lho pak kyai nya.”
Segera mungkin Kadir membenarkan peci hitamnya yang tinggi, menyisir kumis panjangnya dan langsung bersalaman sambil membungkukkan badan. Kadir sangat lama untuk melepas tangan Kyai Mustofa tersebut. Kadir menganggap Kyai Mustofa adalah panutannya. Berjabat tangan dengannya merupakan kesempatan yang sangat langka, apalagi mencium tangannya yang halus dan harum wewangian dari Kota Mekkah. Sambil bersalaman, ternyata Kadir menyelipkan amplop kepada pak Kyai. Pak Kyai pun sepertinya sudah terbiasa dengan amplop ditangannya.
Dari kejauhan, Niro terheran-heran dengan Kadir yang sedang mencium tangan pak kyai. Entah kesurupan setan apa si Kadir langsung tunduk dan membungkuk hormat pada Kyai itu.
Di lain pihak Jumiati, Istri Kadir juga bersalaman dengan dua wanita berjilbab yang berada dibelakang pak Kyai. Ternyata mereka adalah Istri Kyai dan anaknya yang masih muda. Seperti halnya Kadir, Jumiati mencium tangan istri pak kyai dan menyelipkan amplop juga lewat tangannya. Akan tetapi Jumiati menjatuhkan amplopnya. Jumiati yang sedikit latah, sontak berteriak “pokenah geger lek”[1]. Nur istri Niro menepuk bahu Jumiati dan berbisik.
“Aduh bhuk[2], jangan keluarkan kata-kata itu didepan ibu nyai” Sambil menahan ketawa Nur menasehati Jumiati
“Ya mau apa lagi, la wong reflek dek” Masih dengan tangan menutupi mulut, Jumiati berbisik juga pada Nur.
Istri pak Kyai merasa heran kepada Jumiati dan dia memaklumi Jumiati berkata seperti itu, karena dia bukan keturunan Nyai. Syamsiah, anak bu Nyai juga menahan tawa seperti Nur. Syamsiah adalah perempuan yang paling cantik dan bermartabat di pesantren itu. Selain pintar, dia juga sudah sering membantu pak kyai mengajar murid-muridnya dipesantren. Rupanya Fauzi dari tadi tak berhenti memandangi Syamsiah. Begitu pula Syamsiah juga memandangi Fauzi, lelaki muda dengan mata tak terlalu sipit, dengan janggut tipis didagunya, rasanya semakin menambah rasa penasaran Syamsiah. Keduanya sepertinya ingin saling mengenal tapi mereka sama-sama malu. Sedangkan Warno tak peduli dengan gadis cantik itu. Yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara untuk pulang dan bisa bermain dengan teman-temannya dirumah.
Setelah cukup bersalaman, rombongan pun dipersilahkan masuk ke rumah pak Kyai. Di waktu itulah Kadir mengutarakan dengan halus keinginannya untuk menitipkan anaknya dipesantren itu. Satu persatu hidangan dan camilan dikeluarkan oleh Syamsiah. Dan Fauzi semakin tertarik pada wanita itu karena selain cantik, dia juga cakap dalam melakukan berbagai hal rupanya. Pipi Syamsiah bertambah merah karena dia malu dan sadar kalau dia sering dipandangi oleh Fauzi.
Setelah selesai bercakap-cakap dengan pak Kyai, rombongan segera pamit untuk pulang dan meninggalkan Warno dan Fauzi di pesantren itu. Fauzi tak tahan menangis melihat orang tuanya meninggalkan dirinya dipesantren, sedangkan ekspresi wajah Warno biasa saja, seperti tidak ada apa-apa. Jumiati juga tak kuasa menahan kucuran air matanya. Di bahu Kadir dia menangis dan berkata-pada keduanya.
“Tenang Nak, sebulan sekali kami kirimi beras dan kebutuhan lainnya”, Dari atas mobil wanita paruh baya itu berteriak.
Tiga bulan pertama kiriman makanan dan uang tak pernah telat datang. Dan dibulan ke-4 semuanya berubah. Ketika Kadir makin gila bermain togel dan uang Jumiati dari hasil berjualan gorengan sudah tak cukup membiayai anaknya. Warno pun pulang. Akhirnya dia menemukan alasan yang tepat untuk pulang. Kedua orang tuanya pun tak berani memarahinya. Sedangkan Fauzi masih bertahan disana. Dia berusaha mencari uang lain dengan bekerja sebagai penjaga warung milik ibu Nyai. Berbeda dengan fauzi yang berbakti pada orang tua, sekarang Warno juga mengikuti jalur bapaknya. Dia bermain togel, menjadi preman pasar dan senang menggoda banyak wanita. Suatu hari, bapak dan anak itu bertengkar lagi, karena Warno sudah membangkang. Dengan motor GL-max nya Kadir mencari Warno dan membawa celurit. Dia ingin menantang anaknya carok karena sebagai seorang bapak, Kadir sudah tak didengar dan merasa harga dirinya diinjak oleh anaknya sendiri. Di waktu mahrib Kadir datang kerumah mertuanya mencari Warno.
“Mana Warno mak! Keluar kamu cong kalau berani” sambil teriak dia mengangkat cluritnya.
Mertuanya kaget dan menangis karena tak tega jika terjadi apa-apa pada keduanya. Karena usianya sudah lanjut, dia pun duduk dan mengusap air matanya dengan selendang-selendang usang yang dia pakai. Warno akhirnya keluar rumah menemui tantangan bapaknya.
“Apa pak? Kok sepertinya begitu angkuh sampeyan? Kamu sudah tua pak, ingat umur! Aku tak mau membunuhmu!”
“Apa kamu bilang?” Kadir sudah memegang kerah bajunya, tinggal memenggal leher pemuda itu saja.
Mertuanya dan tetangga yang melihatnya berteriak histeris dan tak berani melerai, karena ini urusan keluarga.
“Ada apa kak? Sudah duduk saja dulu, taruklah celuritmu. Malu sama tetangga”, Niro datang mendinginkan mereka.
“Tidak bisa ro, anak ingusan ini sudah membuatku muak”, bantah Kadir kepada Niro
“Anak siapa kak? Anakmu kan? Ayo duduk dulu” perlahan Niro menarik clurit Kadir dan suasana menjadi tenang.
Malam itu juga Warno meminta maaf dan menunduk pada Kadir. Akhirnya keduanya sudah akrab bagaikan teman. Dimana-mana berdiskusi togel bersama. Niro sekali lagi menyimpan keanehan ini dan tak berani menjelekkan mereka.
Sudah berjalan enam tahun di pesantren, ternyata Syamsiah memang jodoh Fauzi dan mereka menjadi suami istri. Kali ini adik Fauzi yaitu Muslim dan Jonny akan dititipkan ke pesantren itu juga. Semua anggota keluarga besar kecuali Niro tak ikut mengantar mereka ke pesantren. Air mata Jumiati tak lagi berjatuhan sederas ketika dia mengantar Warno, karena dia trauma dan takut nasib mereka sama membangkang seperti Warno.
Selang dua tahun keduanya sudah tidak betah dan kembali pulang kerumah. Kali ini Jumiati pasrah dengan kemauan anaknya. Meskipun Kadir memarahi mereka didepan Jumiati, Jumiati tak peduli sedikitpun. Dia sudah lelah dan sekarang yang ada dipikirannya hanya mencukupi kebutuhan mereka sampai dirinya meninggal. Suatu hari pertengkaran kembali terjadi. Akan tetapi bukan antara bapak dan anak, melainkan antara Warno dan Muslim. Keduanya sudah saling jotos akan tetapi Niro memarahi dan melerai mereka. Mereka pun berdamai dan meminta maaf kepada Niro karena telah mengganggu waktu istirahatnya disiang hari. Setelah itu Muslim pun ikut jalur Warno dan bapaknya menjadi penikmat Togel. Dan lebih parahnya kali ini Muslim menjadi anak buah bandar togel itu sendiri.
Jonny tidak seperti ketiga kakaknya. Dia lebih memilih untuk mengalah dan menjauh mencari sesuatu yang baru. Sampai akhirnya dia pindah konsep kepercayaannya menjadi Islam Muhammadiyah. Dia membiarkan janggut-janggutnya panjang dan berkata pada neneknya.
“Memelihara jangut itu sunnah rosul Mbah!”
“Apa pentingnya sebuah janggut untuk kau tiru? Bukankah lebih penting kau meniru keteladanan Rosul, dari pada janggut-janggutnya saja?”
Dari kejauhan Niro menjawab dan mencoba meluruskan Jonny. Jonny pun tak bisa menjawab dengan logika dan hanya menjawab.
“La wong kata ustad seperti itu Om.”
Niro pun tak ingin berdebat dengan Jonny karena dia sudah memahami bahwa Jonny kurang kritis karena pendidikannya hanya sampai sekolah dasar dan setelah itu dikirim ke pesantren. Sama seperti ketiga kakaknya.
Niro tak pernah memandang mereka sebelah mata dan menganggap mereka bodoh. Mereka hanyalah korban dari kesalah-pahaman pemikiran mereka tentang pesantren dan agama mereka. dan Kadir selalu lupa dengan papatah “tadhek aeng agili ka oloh”. Lihat saja keempat anaknya, mereka adalah pemuda pewaris sifat-sifat kadir ketika muda dulu.
Niat Kadir juga bagus, mengirim mereka kepesantren agar mereka tak berkelakuan seperti dirinya. Tapi ada hal yang perlu dipertanyakan oleh Kadir dan Kadir-kadir lainnya di pulau seribu garam ini. Mengapa kadang kita mencium tangan dan tunduk kepada Kyai? Sedangkan pada Ibu sendiri kita jarang bahkan tidak pernah menunduk hormat padanya. Dimana letak konsep Buppa`-Babhu-Guru-Rato[3] mereka? Guru atau Kyai ada di nomor tiga setelah Bapak dan Ibu, tapi mengapa seakan-akan Kyai menjadi nomor satu? Yang paling tak masuk akal, kita rela saling bercekcok, beradu argumen, berkelahi, sampai melakukan Carok demi membela Kyai panutan kita dalam pemilihan Bupati tahun ini. Jika harus membela kehormatan diri sendiri, mungkin bisa dimaklumi mereka bertengkar. Tapi ini membela harga diri orang lain dan orang yang dibela tak akan mungkin memikirkan mereka, apalagi jika sudah nyaman diatas Singgasana.
“Kamu mengerti apa yang ku maksud kan, Cong?”
“iya pak” , jawab Budi






[1] Vaginanya jatuh dek
[2] Asal kata : Embhu` yang berarti embak
[3] Bapak-Ibu-Guru/Kyai-Ratu/pemimpin; presiden dll