Kamis, 06 Maret 2014

Hidup Barumu Om



“Om, sampean gak ikut ?”
“Gak cong, kamu ajak adikmu saja. Bud! Denk-Bodhenk!”
Belum selesai dari makannya, si Budi yang akrab dipanggil bodhenk oleh teman-teman dikampungnya langsung mencuci tangan dan lari ke teras dimana Muslim dan Bapaknya mengobrol. Sambil mengiris kayu kapuk untuk dijual sebagai sangkar burung labet-nya.
“Sana kamu ikut kak Muslim”
“Kemana pak?” budi kebingungan dengan lapar yang belum selesai
“Ngaterin Embahmu ke rumah pak Rosid, Embahmu sakit sudah dua minggu sebelum kamu datang.”
“Oh, iya pak, tunggu sebentar aku ganti baju dulu”
“Ya, cepetan. Sudah ditunggu sama kak Muslim dipinggir jalan”
“Yaaa sek”, secepat sapi yang bokongnya ditusuk paku, Budi pun berangkat.
Digandengnya embahnya dengan pelan oleh Budi.  Seperti pasangan manten, cucu dan neneknya itu berjalan dengan sangat berhati-hati. Keriput kulit si Embah seperti tulang yang ditempel daging dan bisa berjalan. Budi sangat khawatir pada embah yang sejak SD selalu memberi uang saku dan beberapa gorengan sebelum dia berangkat ke sekolah itu.
Di depan pekarangan rumah Nodin, paman kandung Budi yang masih bermusuhan dengan Niro, bapak kandung Budi sendiri. Tak akan ada percakapan yang pernah terjalin antara Budi dan Nodin atau Niro dan Nodin. Bagi Budi dan Bapaknya, Nodin adalah sosok pembuat onar, bajingan! dan sekarang memelihara beberapa pramunikmat di rumahnya. Akhirnya sampailah Embah didepan mobil yang bertuliskan Honda jazz. Rupanya Muslim meminjam mobil tetangga dibelakang rumah Budi yang juga bermusuhan dengan Nodin. masuklah semua penumpang didalam mobil putih itu, termasuk istri Nodin. Seperti mobilnya sendiri, dia duduk didepan. AC dinyalakan, dengan pelan dan sedikit ngadat, mobilpun melaju.
“Eh, ternyata kamu sudah bisa nyetir mobil Lim, sejak kapan?” Basa-basi istri Nodin bertanya pada Muslim.
“Sudah lama Nyah, tapi jarang nyetir aja”
“Lha ini mobil siapa cong?” Muslim kebingungan dan agak sungkan jika harus berkata jujur bahwa itu mobil tetangga yang bermusuhan dengan Nodin.
“Oh, ini mobil kak Fathor Nyah” akhirnya Muslim pun terpaksa berbohong.
Lima menit perjalanan, sampailah rombongan tadi dirumah Kadir, bapak si Muslim. Dari dalam rumah Fauzi, kakak Muslim memopong Kadir menuju dalam mobil. penampilan Kadir kali ini sangat berbeda. tulang-tulang dengan mudah bisa diterawang, lingkar kedua mata mencekung kedalam dan kedua matanya seakan ingin keluar dari kantungnya. Kini kegagahannya seperti luntur walau kumisnya tetap panjang dan dibiarkan tebal. bergemetaran dia memasuki mobil. Pintu yang tak selebar mobil L-300 membuat kadir agak kesusahan. Tapi dengan bantuan Fauzi dan Budi, akhirnya dia bisa masuk dalam mobil dengan gampang.
“e, been lek? kapan datang?” Fauzi baru sadar kalau didalam ada Budi
“Kemarin kak aku datang. sekalian jenguk Embah”
“Semester berapa sekarang?”
“Mau ke semester 6 kak”
“Hampir lulus berarti? gak sambil kerja disana?”
“Ya, kurang tahu juga kak kapan lulusnya, sementara ini gak kerja kak, kalau kemarin sempat jualan roti goreng”
“Sambil cari kerja kalau bisa, biar meringankan Bapakmu.”  Budi hanya bisa heran dan berkata dalam hati.
“Sampean ya kerjanya juga belum ketahuan apa, malah menasehati aku” Budi tersenyum walau hatinya bergejolak.
Masa-masa muda seperti Budi memang sepertinya cepat membakar amarahnya, apalagi didalam mobil dengan cuaca yang cukup panas.
Sementara itu, disisi Fauzi, tubuh kadir bergetar dan matanya terpejam.
“Adoh, lalalala, porah ALLAH” kadir merasakan sakit yang tak tertahankan didadanya.
“buka matanya pak, jangan sampai tertidur! ini minum air pak” Raut wajah Fauzi penuh kekhawatiran sangat jelas terbaca.
“SEHAT! SEHAT! SEHAT!, ALLAHUAKBAR!” sambil menepuk-nepuk dadanya, Kadir berseru.
“Sudah? sudah masuk semuanya?” Muslim mengkonfirmasi
“Sudah” Jumiati istri Kadir yang juga ibu Muslim menjawab.
Mobil pun berjalan pelan, hawa didalam mobil lumayan panas. sepertinya Kadir juga merasakannya. dengan tak terkontrol Kadir bertanya pada Muslim yang sedang menyetir didepan.
“Nak, apa tak ada AC nya mobilnya! kok panas panas begini?”
“Oiya pak, lupa tak ku nyalakan”
“de`remmah been cong! masih muda kok sudah lupa” sambil tertawa, Usman, paman muslim menyela.
suasana mencair, mobil berjalan masih ngadat-ngadat, seperti tak terisi bensin. Sepertinya Muslim kelelahan siang itu, karena dia baru saja datang dari Surabaya mengantarkan pelanggan tetangganya ke Juanda.  Kesejukan mulai terasa ketika didalam mobil. Budi merasakan kenyaman di pojok belakang dengan berdiam tak berkomentar tentang apapun. Terminal lama Pamekasan tak sadar telah terlewati. Mobil sudah melaju agak kencang. Tiba-tiba di pertigaan ada motor yang menikung sembarangan, yang hampir membuat mobil yang ditumpangi mereka menambrak motor itu. Semua yang didalam mobil berteriak kaget, kecuali Budi yang berlagak keren memendam kagetnya.
“ooo, Patek jih!” Muslim mengumpat.
“Ludahi saja cong!” Kadir menjawab dengan mata memerah.
“Kalau orang sembarangan seperti itu, mending kamu ludahi aja, tak usah takut!” sambung Kadir lagi.
“Hush! apa sih pak, kamu lagi sakit, sudahi mengumpatnya! dzikir aja! dzikir pak”
Kadir pun mereda dengan kata-kata Fauzi yang sudah berhari-hari merawatnya.
“Sudah tak usah ngebut cong, yang penting selamat” saut Jumiati
“Kalau pelan, kapan sampainya mak?” jawab Muslim
Dari belakang Kadirpun tak mau kalah menjawab.
“Diam Ju, dzikir yang banyak!”
Usman, Budi dan Muslim pun tertawa dalam hati melihat tingkah orang-orang yang sakit. setelah 10 menit, akhirnya sampailah rombongan di Rumah dokter Mursid. Semua orang masuk kepekarangan rumah yang ternyata didalam sudah banyak pasien yang mengantri.
“Kita nomor berapa om? ” Budi bertanya pada Usman.
“nomor 401,402,403,404”
“Oh, sebentar lagi Mbah” Budi berbisik pada Embahnya yang sebelumnya bertanya.
Kadir dan Jumiati terlentang diteras Dokter Mursid, dokter yang cukup memilki nama walau hanya berpraktek dirumahnya saja. Seluruh badan kadir bergetar seperti rebana yang ditabuh tangan-tangan yang berurat. Matanya yang keriput tak sanggup untuk menahan rasa ingin memejamkan mata. Dari mulutnya keluar sedikit busa. Setengah jam kemudian, Kadir bangun meminta air pada Usman. Sebelum air sampai pada perutnya, Kadir menegang. Seluruh tubuhnya mengeras seperti kerasukan. Matanya mendelik ke wajah Usman. Dengan sabar Fauzi menyuruhnya berdzikir. Dibisikan dzikir oleh Fauzi lewat telinga kadir. Jumiati walau dalam keadaan sama-sama sakit, duduk sigap sambil memijiti tangan suaminya itu. 5 detik kemudian, Kadir pun sadar dan menepuk dadanya begitu keras.
“SEMANGAT! SEMANGAT! SEMANGAT! , mana Fauzi? mana tanganmu nak?”
“Sudahlah pak tak usah banyak bergerak, dzikir aja” diingatkan lagi oleh Fauzi.
“Bud, Budi, mana Budi zi?” kali ini giliran Budi yang ditanya.
Budi diam pura-pura tak mendengar panggilannya, tapi Muslim dan Usman memaksanya.
“Sana samperin cong, iya sana lek!”
Budi akhirnya mendekat dengan penuh pertanyaan dalam hatinya, penyakit apa yang menimpa Pamannya ini.
“Iya Om, aku disini. Ada apa?”
“Hati-hati kalau hidup dikampung orang ya nak! jangan membuat onar. Kuatkan imanmu. Kasihani orang tuamu yang selama ini telah banting tulang membiayaimu. Kirim Fatehah pada Junjungan Nabi Muhammad setelah sholat jangan lupa.”
“Enggi om”, Budi hanya menjawab pendek, tapi dalam hatinya ada keresahan tentang akhir kehidupan pamanya itu yang sepertinya mendekat.
Budi kembali ketempatnya duduk dengan Embahnya. dijulurkannya oleh Embahnya sebuah permen kepadanya. Kali ini kekhawatiran lebih mendalam dia rasakan pada wanita tua itu. Orang yang selalu mencarinya ketika dia sampai diteras rumah, sesampainya dari perantauan mencari ilmu.
Akhirnya semua pasien dari rombongan diperiksa dan diberi resep-resep herbal oleh sang dokter. Kadir rupanya mengidap radang paru-paru.
Setelah diketahui penyakitnya, Muslim pun selalu mewanti-wanti disepanjang perjalanan pulang. Sampai-sampai  mobil yang di stirnya itu hampir menabrak Truk didepannya. Embah yang kaget berseru ketakutan.
“Dhu, dhu, awas cong!”
“Apa Mbah, tenang aja” jawab Muslim
“Ini jalan apa ya?” tanya si Embah pada Usman
“Ini smk 3 buk, sebentar lagi belok ke kanan ketemu dengan yusup, penjual es langganan sampean”
“Ow. ini belok ke barat ya?”
“Barat mana Mbah? ini belok ke utara” Budi menjelaskan.
Usman dan Muslim tertawa. Semuanya sudah sampai di rumah, Budi memopong Embah lagi menuju rumah. Diteras rumah Niro masih mengiris-ngiris kayu kapuknya.
Besok Budi harus kembali ke Malang melanjutkan kuliahnya. Budi berdiam merenung sendiri didekat bapaknya yang mengiris-ngiris kayu. Ingin membaca novel “Syeh Siti Jenar 2” tapi novelnya masih tergeletak dikamar Bapaknya.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ketika Budi sudah berada dimalang, penyakit Kadir makin parah. Semua anggota keluarga panik, termasuk Niro. Muslim membelikan berbagai macam makanan yang diminta Kadir. Herannya makanan yang diminta adalah makanan yang enak-enak bagi orang-orang menengah kebawah. Ayam goreng, Pecel blitar, sate kambing. Dengan sabar Muslim menuruti kemauan Ayahnya itu. Akhirnya timbul rasa lelah dan kantong terkuras. Muslim pun menggerutu dalam hatinya tentang yang tidak-tidak. Hari berikutnya darah Kadir menurun menjadi 50. Terpaksa Kadir harus di infus dan dipindahkan kerumah Muslim yang lebih besar dan bersih. Darahnya mulai kembali normal. Dimalam berikutnya, Niro tak tidur dan begadang di depan rumahnya. ternyata tanpa sepengetahuan siapapun. Kadir melepas selang infusnya pada malam itu.
Ketika Muslim masuk, Kadir sudah terengah-engah menahan sesak yang tak tertahankan. Niro sudah merasakan apa yang akan terjadi. Dan benar saja malam itu kegagahan Kadir, patah melepuh dengan keheningan dalam dadanya. Kini yang tersisa adalah penyesalan atau kebahagiaan. Dari Malang, Budi mendoakan dan Semua orang mendoakan. Warno anak pertama  yang masih sakit hati, akhirnya memaafkan kesalahan bapaknya itu lantaran di wanti-wanti seorang Kiai, bawa bapaknya tinggal menunggu maaf darinya. Niro dengan sakit, tetap tersenyum melihat kejadian itu. Dia berangkat dengan Usman dan Muslim membawa linggis dan cangkul membuatkan rumah seindah mungkin untuk Kadir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar