“Om, sampean gak ikut ?”
“Gak cong, kamu ajak adikmu saja. Bud!
Denk-Bodhenk!”
Belum selesai dari makannya, si Budi yang
akrab dipanggil bodhenk oleh teman-teman dikampungnya langsung mencuci tangan
dan lari ke teras dimana Muslim dan Bapaknya mengobrol. Sambil mengiris kayu
kapuk untuk dijual sebagai sangkar burung labet-nya.
“Sana kamu ikut kak Muslim”
“Kemana pak?” budi kebingungan dengan lapar
yang belum selesai
“Ngaterin Embahmu ke rumah pak Rosid, Embahmu
sakit sudah dua minggu sebelum kamu datang.”
“Oh, iya pak, tunggu sebentar aku ganti
baju dulu”
“Ya, cepetan. Sudah ditunggu sama kak
Muslim dipinggir jalan”
“Yaaa sek”, secepat sapi yang bokongnya
ditusuk paku, Budi pun berangkat.
Digandengnya embahnya dengan pelan oleh
Budi. Seperti pasangan manten, cucu dan
neneknya itu berjalan dengan sangat berhati-hati. Keriput kulit si Embah
seperti tulang yang ditempel daging dan bisa berjalan. Budi sangat khawatir
pada embah yang sejak SD selalu memberi uang saku dan beberapa gorengan sebelum
dia berangkat ke sekolah itu.
Di depan pekarangan rumah Nodin, paman
kandung Budi yang masih bermusuhan dengan Niro, bapak kandung Budi sendiri. Tak
akan ada percakapan yang pernah terjalin antara Budi dan Nodin atau Niro dan
Nodin. Bagi Budi dan Bapaknya, Nodin adalah sosok pembuat onar, bajingan! dan
sekarang memelihara beberapa pramunikmat di rumahnya. Akhirnya sampailah Embah
didepan mobil yang bertuliskan Honda jazz. Rupanya Muslim meminjam mobil
tetangga dibelakang rumah Budi yang juga bermusuhan dengan Nodin. masuklah
semua penumpang didalam mobil putih itu, termasuk istri Nodin. Seperti mobilnya
sendiri, dia duduk didepan. AC dinyalakan, dengan pelan dan sedikit ngadat,
mobilpun melaju.
“Eh, ternyata kamu sudah bisa nyetir mobil
Lim, sejak kapan?” Basa-basi istri Nodin bertanya pada Muslim.
“Sudah lama Nyah, tapi jarang nyetir aja”
“Lha ini mobil siapa cong?” Muslim
kebingungan dan agak sungkan jika harus berkata jujur bahwa itu mobil tetangga
yang bermusuhan dengan Nodin.
“Oh, ini mobil kak Fathor Nyah” akhirnya
Muslim pun terpaksa berbohong.
Lima menit perjalanan, sampailah rombongan
tadi dirumah Kadir, bapak si Muslim. Dari dalam rumah Fauzi, kakak Muslim
memopong Kadir menuju dalam mobil. penampilan Kadir kali ini sangat berbeda.
tulang-tulang dengan mudah bisa diterawang, lingkar kedua mata mencekung
kedalam dan kedua matanya seakan ingin keluar dari kantungnya. Kini
kegagahannya seperti luntur walau kumisnya tetap panjang dan dibiarkan tebal.
bergemetaran dia memasuki mobil. Pintu yang tak selebar mobil L-300 membuat
kadir agak kesusahan. Tapi dengan bantuan Fauzi dan Budi, akhirnya dia bisa
masuk dalam mobil dengan gampang.
“e, been lek? kapan datang?” Fauzi baru
sadar kalau didalam ada Budi
“Kemarin kak aku datang. sekalian jenguk
Embah”
“Semester berapa sekarang?”
“Mau ke semester 6 kak”
“Hampir lulus berarti? gak sambil kerja
disana?”
“Ya, kurang tahu juga kak kapan lulusnya,
sementara ini gak kerja kak, kalau kemarin sempat jualan roti goreng”
“Sambil cari kerja
kalau bisa, biar meringankan Bapakmu.”
Budi hanya bisa heran dan berkata dalam hati.
“Sampean ya
kerjanya juga belum ketahuan apa, malah menasehati aku” Budi tersenyum walau
hatinya bergejolak.
Masa-masa muda
seperti Budi memang sepertinya cepat membakar amarahnya, apalagi didalam mobil
dengan cuaca yang cukup panas.
Sementara itu,
disisi Fauzi, tubuh kadir bergetar dan matanya terpejam.
“Adoh, lalalala,
porah ALLAH” kadir merasakan sakit yang tak tertahankan didadanya.
“buka matanya pak,
jangan sampai tertidur! ini minum air pak” Raut wajah Fauzi penuh kekhawatiran
sangat jelas terbaca.
“SEHAT! SEHAT!
SEHAT!, ALLAHUAKBAR!” sambil menepuk-nepuk dadanya, Kadir berseru.
“Sudah? sudah
masuk semuanya?” Muslim mengkonfirmasi
“Sudah” Jumiati
istri Kadir yang juga ibu Muslim menjawab.
Mobil pun berjalan
pelan, hawa didalam mobil lumayan panas. sepertinya Kadir juga merasakannya.
dengan tak terkontrol Kadir bertanya pada Muslim yang sedang menyetir didepan.
“Nak, apa tak ada
AC nya mobilnya! kok panas panas begini?”
“Oiya pak, lupa
tak ku nyalakan”
“de`remmah been
cong! masih muda kok sudah lupa” sambil tertawa, Usman, paman muslim menyela.
suasana mencair,
mobil berjalan masih ngadat-ngadat, seperti tak terisi bensin. Sepertinya
Muslim kelelahan siang itu, karena dia baru saja datang dari Surabaya
mengantarkan pelanggan tetangganya ke Juanda.
Kesejukan mulai terasa ketika didalam mobil. Budi merasakan kenyaman di
pojok belakang dengan berdiam tak berkomentar tentang apapun. Terminal lama
Pamekasan tak sadar telah terlewati. Mobil sudah melaju agak kencang. Tiba-tiba
di pertigaan ada motor yang menikung sembarangan, yang hampir membuat mobil
yang ditumpangi mereka menambrak motor itu. Semua yang didalam mobil berteriak
kaget, kecuali Budi yang berlagak keren memendam kagetnya.
“ooo, Patek jih!”
Muslim mengumpat.
“Ludahi saja
cong!” Kadir menjawab dengan mata memerah.
“Kalau orang
sembarangan seperti itu, mending kamu ludahi aja, tak usah takut!” sambung
Kadir lagi.
“Hush! apa sih
pak, kamu lagi sakit, sudahi mengumpatnya! dzikir aja! dzikir pak”
Kadir pun mereda dengan
kata-kata Fauzi yang sudah berhari-hari merawatnya.
“Sudah tak usah
ngebut cong, yang penting selamat” saut Jumiati
“Kalau pelan,
kapan sampainya mak?” jawab Muslim
Dari belakang
Kadirpun tak mau kalah menjawab.
“Diam Ju, dzikir
yang banyak!”
Usman, Budi dan
Muslim pun tertawa dalam hati melihat tingkah orang-orang yang sakit. setelah
10 menit, akhirnya sampailah rombongan di Rumah dokter Mursid. Semua orang
masuk kepekarangan rumah yang ternyata didalam sudah banyak pasien yang
mengantri.
“Kita nomor berapa
om? ” Budi bertanya pada Usman.
“nomor 401,402,403,404”
“Oh, sebentar lagi
Mbah” Budi berbisik pada Embahnya yang sebelumnya bertanya.
Kadir dan Jumiati
terlentang diteras Dokter Mursid, dokter yang cukup memilki nama walau hanya
berpraktek dirumahnya saja. Seluruh badan kadir bergetar seperti rebana yang
ditabuh tangan-tangan yang berurat. Matanya yang keriput tak sanggup untuk
menahan rasa ingin memejamkan mata. Dari mulutnya keluar sedikit busa. Setengah
jam kemudian, Kadir bangun meminta air pada Usman. Sebelum air sampai pada
perutnya, Kadir menegang. Seluruh tubuhnya mengeras seperti kerasukan. Matanya
mendelik ke wajah Usman. Dengan sabar Fauzi menyuruhnya berdzikir. Dibisikan
dzikir oleh Fauzi lewat telinga kadir. Jumiati walau dalam keadaan sama-sama
sakit, duduk sigap sambil memijiti tangan suaminya itu. 5 detik kemudian, Kadir
pun sadar dan menepuk dadanya begitu keras.
“SEMANGAT!
SEMANGAT! SEMANGAT! , mana Fauzi? mana tanganmu nak?”
“Sudahlah pak tak
usah banyak bergerak, dzikir aja” diingatkan lagi oleh Fauzi.
“Bud, Budi, mana
Budi zi?” kali ini giliran Budi yang ditanya.
Budi diam
pura-pura tak mendengar panggilannya, tapi Muslim dan Usman memaksanya.
“Sana samperin cong,
iya sana lek!”
Budi akhirnya
mendekat dengan penuh pertanyaan dalam hatinya, penyakit apa yang menimpa
Pamannya ini.
“Iya Om, aku
disini. Ada apa?”
“Hati-hati kalau
hidup dikampung orang ya nak! jangan membuat onar. Kuatkan imanmu. Kasihani
orang tuamu yang selama ini telah banting tulang membiayaimu. Kirim Fatehah
pada Junjungan Nabi Muhammad setelah sholat jangan lupa.”
“Enggi om”, Budi
hanya menjawab pendek, tapi dalam hatinya ada keresahan tentang akhir kehidupan
pamanya itu yang sepertinya mendekat.
Budi kembali ketempatnya
duduk dengan Embahnya. dijulurkannya oleh Embahnya sebuah permen kepadanya.
Kali ini kekhawatiran lebih mendalam dia rasakan pada wanita tua itu. Orang
yang selalu mencarinya ketika dia sampai diteras rumah, sesampainya dari
perantauan mencari ilmu.
Akhirnya semua
pasien dari rombongan diperiksa dan diberi resep-resep herbal oleh sang dokter.
Kadir rupanya mengidap radang paru-paru.
Setelah diketahui
penyakitnya, Muslim pun selalu mewanti-wanti disepanjang perjalanan pulang. Sampai-sampai mobil yang di stirnya itu hampir menabrak
Truk didepannya. Embah yang kaget berseru ketakutan.
“Dhu, dhu, awas
cong!”
“Apa Mbah, tenang
aja” jawab Muslim
“Ini jalan apa
ya?” tanya si Embah pada Usman
“Ini smk 3 buk,
sebentar lagi belok ke kanan ketemu dengan yusup, penjual es langganan sampean”
“Ow. ini belok ke
barat ya?”
“Barat mana Mbah?
ini belok ke utara” Budi menjelaskan.
Usman dan Muslim
tertawa. Semuanya sudah sampai di rumah, Budi memopong Embah lagi menuju rumah.
Diteras rumah Niro masih mengiris-ngiris kayu kapuknya.
Besok Budi harus
kembali ke Malang melanjutkan kuliahnya. Budi berdiam merenung sendiri didekat
bapaknya yang mengiris-ngiris kayu. Ingin membaca novel “Syeh Siti Jenar 2”
tapi novelnya masih tergeletak dikamar Bapaknya.
Hari-hari berlalu
begitu cepat. Ketika Budi sudah berada dimalang, penyakit Kadir makin parah.
Semua anggota keluarga panik, termasuk Niro. Muslim membelikan berbagai macam
makanan yang diminta Kadir. Herannya makanan yang diminta adalah makanan yang
enak-enak bagi orang-orang menengah kebawah. Ayam goreng, Pecel blitar, sate
kambing. Dengan sabar Muslim menuruti kemauan Ayahnya itu. Akhirnya timbul rasa
lelah dan kantong terkuras. Muslim pun menggerutu dalam hatinya tentang yang
tidak-tidak. Hari berikutnya darah Kadir menurun menjadi 50. Terpaksa Kadir
harus di infus dan dipindahkan kerumah Muslim yang lebih besar dan bersih. Darahnya
mulai kembali normal. Dimalam berikutnya, Niro tak tidur dan begadang di depan
rumahnya. ternyata tanpa sepengetahuan siapapun. Kadir melepas selang infusnya
pada malam itu.
Ketika Muslim
masuk, Kadir sudah terengah-engah menahan sesak yang tak tertahankan. Niro
sudah merasakan apa yang akan terjadi. Dan benar saja malam itu kegagahan Kadir,
patah melepuh dengan keheningan dalam dadanya. Kini yang tersisa adalah
penyesalan atau kebahagiaan. Dari Malang, Budi mendoakan dan Semua orang
mendoakan. Warno anak pertama yang masih
sakit hati, akhirnya memaafkan kesalahan bapaknya itu lantaran di wanti-wanti
seorang Kiai, bawa bapaknya tinggal menunggu maaf darinya. Niro dengan sakit, tetap
tersenyum melihat kejadian itu. Dia berangkat dengan Usman dan Muslim membawa
linggis dan cangkul membuatkan rumah seindah mungkin untuk Kadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar