“loncatan-loncatan pikiran dan keinginan bersamamu telah terpampang bahkan meleleh sampai menutupi indraku”
Dia, terus saja menggumam dalam hatinya di kamar berwarna pink dengan hiasan pernak-pernik hitam kesukaannya. Menatap awang-awang bibir mengecup hampa dengan hati yang berdegup berirama. Jatuh cinta, bukan hanya sekali ini dia jatuh cinta, tapi mungkinlah ini yang terakhir. Seorang pria tampan pilihannya. Seorang penjaga keamanan negara, gagah perkasa tubuhnya, senyumnya menciptakan lesung pipi keharmonisan kecupan seorang bakal pahlawan negara. Kini tak perlu lagi dia mencari lagi. Sang perawan kegirangan mengakhiri ke acuhannya pada setiap lelaki penggodanya dan semua miliknya hanya tertuju padanya; “My love”, begitu gumamnya.
Selalu begitu Rani, selalu rindu kasih sang pahlawan. Sebelum kedatangannya saja, kepada tetangga, kerabat, teman dan sahabat, betapa senangnya hatinya menyebut kata “My love”. Dalam wajah cerianya dia selalu bercerita dengan memeluk guling dengan erat, seperti guling itu adalah sang “My love”. Tak berhenti dia memuja pahlawannya, kegagahan suaranya, kecap halus bibirnya, getaran-getaran resonansi suara yang tepat mengenai hatinya, meniupkan Rani dalam istana raja-raja Histeria.
“ibu, kapankah sebenarnya My love akan datang?”
“mengapa tanya ibu nak? Mengapa tak tanya padanya? Bukankah kekasihnya adalah dirimu?”
“ah ibu, bisa saja membuatku malu”
“tenang nak, sabar ya, kata calon mertuamu dia akan datang 5 hari lagi, sekarang dia sedang membela negara kita!”
“oh My love, oh kasihku hanya milikmu, tak akan aku beranjak dari kamar ini. Agar memastikan aku tak tersentuh oleh burung-burung pelatuk yang pandai berpuisi.” sang Ibu hanya tersenyum mendengarnya.
“ya sudah, tidur dulu ya sayang, sudah larut.”
“tidak ibu, aku tidak bisa tidur tanpa merasakan hadirnya dahulu”
“hmm, kamu ada-ada saja. Ibu sudah gak kuat. ngantuk. bye, good night darling”. Reduplah lampu kamar, tapi belum redup hati Rani.
Seorang perawan kini harus begadang karena cinta yang yang memaksanya untuk tidak tidur sampai tengah malam. Mimpi-mimpi sebelum mimpi membawanya pada kedamaian yang tak terduga dengan banyak keinginan. “My love pasti sedang mengangkat senjata dengan gagah di medan laga melawan pada teroris-teroris, atau dia sedang melawan rindunya seperti yang ku alami tiap malam?”. Begitulah cinta Rani, cinta yang tak pernah luntur, bahkan terus bersinar layaknya fajar yang bersinar di ufuk timur Mayapada. Kehadirannya didalam mimpi yang sebernarnya tak dapat dibedakan oleh Rani. Kini dia telah pulas dengan nafas-nafas halus yang membuat malam makin indah. Tak ada yang sadar dari balik jendela kamar Rani ada Shiro, seorang sastrawan dan pelukis pinggir kota yang datang setiap malam mengamati tidur Rani sekaligus menuangkan penglihatannya dalam sketsa dan nantinya akan menjadi pajangan dikamarnya. Sudah lama Rani tidak keluar rumah untuk melecehkan Shiro, setelah terdengar kabar jika Rani sudah bertunangan. Shiro ternyata merindu ucapan-ucapan mesra Rani padanya. Ketika Rani merobek-robek sketsanya dipinggir jalan sampai menjadi bagian-bagian kecil, ketika Rani menendang tubuhnya ketanah, waktu Shiro ketahuan membuntutinya dengan sepeda ontel lawasnya dan semua itu menjadi pahit yang memaniskan hati Shiro. Shiro tak seperti lelaki lain, meski dia bisu dan memiliki badan yang kurus, dia tak pernah patah semangat untuk mengejar cintanya. Dia tak pernah tahu siapa ibunya dan siapa bapaknya, tapi dia tahu bahwa Tuhan yang selalu menjaganya.
Sejak kecil Shiro diasuh oleh keluarga penjaga pemakaman umum di desa Khumbakarna. Desa kecil pinggir kota yang mayoritas penduduknya petani, pemulung, penjudi, mafia, rampok dan lain-lain. Kini Shiro hanya bekerja sebagai penjual gorengan sang nenek di perempatan kota. Sempat ingin menjadi Pahlawan negara, tapi dia mengurungkan niatnya, karena dia ingat kembali bahwa dia bisu dan tak memiliki banyak uang untuk menyogok atau membayar calo.
Kini sudah hari ke lima, seharusnya siang ini sang “My love” sudah datang kerumah Rani beserta calon mertuanya. Tapi bahkan tak ada nada derap langkah teratur tentara yang menuju pintu rumahnya. Rani mulai cemas hari ini. Dia mencoba menghubungi pujaan hatinya dan menghubungi mertuanya tapi semua inginnya sia-sia. Akhirnya cemasnya berubah menjadi ketakutan yang mendalam dengan keadaan sang kekasih. Setelah adzan mahrib, rani nekat keluar rumah menyusuri jalan raya yang sudah lima hari tak dilihatnya. Dari belakang, Shiro membuntutinya dan mencoba membaca gerak gerik wajah Rani yang mengendarai motor tanpa helm. Menggayuh sepeda ontel secepat mungkin untuk mengetahui raut wajah pujaan hatinya Shiro sampai tak sadar dan tak ingin sadar bahwa yang dia lakukan hanya sia-sia. Beberapa orang dipinggir jalan yang melihat shiro, bertanya-tanya sekaligus menertawakannya. Mereka anggap Shiro gila. Pemuda penjual gorengan dengan pakaian kumuh mengejar wanita anggun dan cantik yang jarang terlihat dikota.
20 menit kemudian sampailah Rani kerumah My love nya itu. Disana tak ada keramaian atau bahkan sambutan untuk menyambut kekasihnya. Sunyi dan sepi dengan kegelapan teras depan, yang terang hanya lampu di ruang tengah. Dari balik pohon asam yang cukup tua Shiro masih mengintai. Diketuklah pintu rumah kekasihnya oleh Rani, ternyata yang membukanya adalah Sang kekasih. Tak terduga sama sekali apa yang kini dilihatnya. Didepannya berdiri tegak sang kekasih tampan dengan kepala dipotong persegi. Lesung pipinya waktu tersenyum menatap kekasihnya masih menggelorakan nafsu Rani. Tak sadar rani selangkah maju dan memeluk tubuh gagah kekasihnya. Merangkul bagian belakang lehernya dan menangis dibahunya. My love hanya tersenyum bersikap dingin seakan-akan dia tak bersalah dan tak merasa punya janji akan kerumah Rani. Melihat terangkat senyum kekasihnya, Rani langsung mengecup bibirnya. Namun Rani semakin kecewa karena bibir My love tak bergerak sedikit pun kecuali badannya yang tegap bergerak mundur. Seakan-akan My love mengisyaratkan Tubuhnya yang tak bernafsu, mesti kalah dengan Rani yang menggebu.
“kenapa sayang?! Ada apa? Kenapa membisu?” My love tersenyum, terdiam dengan pandangan kosong.
“ada apa sebenarnya kasihku? Mengapa kau berubah?” di kecup labi bibir My love sampai terluka.
My love hanya mengerutkan kening dan duduk dikursi teras rumahnya. Sepertinya My love sedang mengalami kegilaan, tapi entah apa penyebab kegilaan itu. Rani masih kebingungan menangis merangkul kakinya.
Tiba-tiba hati dan pikiran Mylove menggerakkan bibirnya untuk berbicara.
“Untuk apa Adik kesini?”
“Apa? Adik?”
“Salahkah aku memanggil begitu Adik manis yang kecanduan masa depan?”
“Apa maksudnya? Jangan bercanda! Kamu itu tunanganku! Jelaslah kamu masa depanku!” Telinga Rani sudah memanas.
“Masa depanmu bukanlah aku! Masa depanmu adalah uang! Pulanglah kerumahmu Adik, aku akan memperbaiki semuanya dari awal.”
“Kenapa kau berucap seperti itu? Apa kau tak pernah merindu padaku? Lelaki apa kamu ini! ” Rani mengejar dengan pertanyaan lain.
“Maafkan aku, aku bukanlah lelaki baik-baik pembela negara seperti yang kau katakan ditelepon. Aku hanya lelaki yang numpang hidup dan membesarkan perutku dari negara. Aku bahkan tak pernah melihat teroris di ibu kota. Aku sudah jarang melihat negara-negara tetangga melanggar perbatasan negaraku. Jika ada mungkin itu hanya akal-akalan neraga A yang memiliki hutang banyak ke negara B sehingga negara B melanggar perbatasan, dan kita ketakutan. Tanpa pikir panjang kita membeli senjata dari negara A. Dan hutang negara A terlunasi kepada negara B!
“Apa yang kau katakan!?”
“Sudah pulanglah adik, wanita secantik kamu akan hilang kecantikannya jika menikah denganku. Aku ini penikmat gaji buta dan bukan bekas pahlawan. Aku pembela pemilik uang dalam kasus-kasus sengketa lahan. Ya itu aku! Apalagi yang kau ingin dariku? Jika kau wanita dengan kehormatan diatas awan, mengapa kau menungguku yang jelas-jelas jelata. Kenapa kau menginginkan masa depan yang tak lain hanyalah materi yang membuatmu kaya?
Akhirnya semua yang disembunyikan atas keinginan-keinginan Rani pun runtuh seketika. Dengan pipi yang tak pernah kering, Rani melangkah menguatkan diri untuk pulang. Shiro yang mengetahui percakapan keduanya berlari bersembunyi dan ketika Rani benar-benar menghilang, Shiro menghampiri kekasih Rani itu.
“ya lebih baik begini saja bukan? kau boleh menulisnya atau melukis kesalahanku dikanvasmu! Setelah ini aku akan memilih menjadi orang gila. Karena hanya orang gila lah yang bebas dari penindasan dan jerat hukum di negaraku ini. Bersyukurlah menjadi bisu, karena lidahmu tak akan pernah melukai hati manusia lain”
Shiro terdiam dan tak memberikan isyarat apa-apa pada My love, kecuali air liurnya turun membasahi tenggerokannya untuk meredakan kagetnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar