Minggu, 18 Maret 2018

Membungkus kota juga kenangan

Jika saja aku burung
Telah lemah aku terbang tak bertujuan
Tanpa tumpuan 
Bernyayipun tak semerdu waktu itu
Kini datang suatu gelombang dari cakrawala kedalaman jiwaku yang sedikit bercahaya. 
Yang tiba tiba saja menyapu kemahsyuran dan angan angan akan cinta dan hasrat memiliki. 
Kini aku harus pasrah dibawa ketepian
Walau dalam diam, sudah pisah suara hati dengan jagat raya raga serta keinginannya
Gelombang itu datang sangat cepat
Dan begitu cepat
Kini tenggerokanku tercekik
Lidahku tergulung 
Kakiku terantai karang
Aku tak tenggelam
Aku ditepian bersama pasir
Bersama matahari kala siang
Bersama mendung dikala hujan
Bersama bulan dan bintang ketika malam
Pekik dalam hati
Pilu melihat lautan tempatku berenang
Tak kuasa menyaksikan betapa kata percuma didaratan ini
Aku ingin suarakan keinginan 
Tapi pikiranku memenjara dan menamparku sangat keras dan lebih keras dari sebelumnya

"Kau disini saja. Kau rasa rasakan saja bagaimana ramainya kesepian ini. Bagaimana rasanya raga itu mati. Tapi angan dan inginmu tetap berbisik dan menelisik segala lubang yang belum kau tutupi dengan rasa bersyukurmu. Cintamu tak pernah salah. Perbaikilah cara cara nya dan minta maaflah karena telah menyiksa raga dan hatimu terlalu keras" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar